Showing posts with label Audit. Show all posts
Showing posts with label Audit. Show all posts

Tuesday, 21 November 2017

STANDAR UMUM AUDIT


Standar Auditing



1.1     Standar Umum

Standar auditing merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggungjawab profesionalnya. Standar-standar ini merupakan dan meliputi pertimbangan mengenai kualitas professional mereka seperti keahlian dan independensi, persyaratan dan pelaporan serta bahan bukti. Pedoman utama adalah sepuluh standar auditing atau 10 generally auditing standards. Sejak disusun oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) tahun 1947 dan diadaptasi oleh IAI di Indonesia sejak 1973 dan sekarang disebut Standar Auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (SA-IAI) kecuali untuk perubahan-perubahan kecil, namun bentuknya tetap sama. Standar-standar ini tidak cukup spesifik untuk dapat dipakai sebagai pedoman kerja oleh auditor tetapi menggambarkan suatu kerangkan (framework) sebagai landasan interpretasi oleh AICPA atau IAI. Adapun 3 standar umum auditing antara lain :

1.         Audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor.

·            Pendidikan formal dalam bidang akuntansi di suatu perguruan tinggi termasuk ujian profesi auditor.

·            Pelatihan yang bersifat praktis dan pengalaman dalam bidang auditing.

·            Pendidikan profesional yang berkelanjutan selama menekuni karir auditor profesional.

2.          Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor, ada 3 aspek independesi, yaitu :

·            Independensi senyatanya

·            Independensi dalam penampilan.

·            Independensi dari sudut keahliannya atau kompetensinya.

3.         Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalisnya dalam cermat dan seksama.




1.2     Standar pekerjaan Lapangan

Standar Pekerjaan Lapangan merupakan salah satu dari tiga Standar Auditing yang Berlaku Umum. Standar ini sangat berperan penting dalam suksesnya proses audit yang dijalankan hingga didapatnya hasil temuan audit.

Standar pekerjaan lapangan terdiri dari tiga, yaitu:

1.            Auditor harus merencanakan pekerjaan secara memadai dan mengawasi semua asisten sebagaimana mestinya.

2.            Auditor harus memperoleh pemahaman yang cukup mengenai entitas serta lingkungannya, termasuk pengendalian internal, untuk menilai resiko salah saji yang material dalam laporan keuangan karena kesalahan atau kecurangan, dan untuk merancang sifat, waktu, serta luas prosedur audit selanjutnya.

3.            Auditor harus memperolh cukup bukti audit yang tepat dengan melakukan prosedur audit agar memiliki dasar yang layak untuk memberikan pendapat menyangkut laporan keuangan yang diaudit.



1.3     Setardar Pelaporan

Standar pelaporan terdiri dari empat item, diantaranya :

1.         Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Standar pelaporan pertama ini tidak mengharuskan untuk menyatakan tentang fakta (statement of fact), namun standar tersebut mengharuskan auditor untuk menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi tersebut. Prinsip akuntansi berlaku umum atau “generally accepted accounting principles” mencakup konvensi, aturan dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik akuntansi yang berlaku umum diwilayah tertentu dan pada waktu tertentu.





2.         Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

Standar ini juga disebut dengan standar konsistensi. Standar konsistensi menuntut auditor independen untuk memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan. Kurangnya konsistensi penerapan prinsip akuntansi dapat menyebabkan kurangnya daya banding laporan keuangan. Standar ini bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan diantara kedua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya. Caranya, dengan menambahkan paragraf penjelasn yang disajikan setelah paragraf pendapat.



3.            Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia mencakup dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material, diantaranya bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan serta catatan atas laporan keuangan. Auditor harus selalu mempertimbangkan apakah masih terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan fakta yang diketahuinya pada saat audit. Dalam mempertimbangkan cukup atau tidaknya pengungkapan, auditor menggunakan informasi yang diterima dari kliennya atas dasar kepercayaan bahwa auditor akan merahasiakan informasi tersebut. Tanpa kepercayaan, auditor akan sulit untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menanyatakan pendapat atas laporan keuangannya.









4.            Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor. Tujuan standar pelaporan ini adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan. Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keungan jika ia mengizinkan namanya dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan tersebut. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, maka ia juga dianggap berkaitan dengan laporan keuangan tersebut, meskipun ia tak mencantumkan namanya dalam laporan tersebut.



Auditing & Profesi Akuntan Publik


Auditing & Profesi Akuntan Publik

1.1              Difinisi audit

Definisi Auditing

“Report of the Committee on Basic Auditing Concepts of the American Account Association” (Accounting Review, vol.47) memberikan definisi auditing sebagai :

“suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi – asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi – asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil – hasilnya kepada pihak – pihak yang berkepentingan”.

Beberapa ciri penting yang ada dalam definisi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut ;

a.   Suatu proses sistematisberupa serangkaian langkah atau prosedur yang logis, terstruktur, dan terorganisir.

b.   Memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif berarti memeriksa dasar asersi serta mengevaluasi hasil pemeriksan tersebut tanpa memihak dan berprasangka, baik untuk atau terhadap perorangan (atau entitas) yang membuat asersi tersebut.

c.    Asersi tentang kegiatan dan peristiwa ekonomi merupakan representasi yang dibuat oleh perorangan atau entitas. Asersi ini merupakan subjek pokok auditing. Asersi meliputi informasi yang dimuat dalam laporan keuangan, laporan operasi intern, dan surat pemberitahuan pajak (SPT).

d.   Derajat kesesuaian menunjuk pada kedekatan dimana asersi dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Ekspresi kesesuaian ini dapt berbentu kuantitas, seperti jumlah kekurangan dana kas kecil, atau dapat juga berbentuk kualitatif, seperti kewajaran (atau keabsahan) laporan keuangan.

e.    Kriteria yang telah ditetapkanadalah standar – standar yang digunakan sebagai dasar untuk menilai asersi atau pernyataaan. Kriteria dapat berupa peraturan – peraturan spesifik yang dibuat oleh badan legislative, anggaran atau ukuran kinerja lainnya yang ditetapkan oleh manajemen,  (GAAP = prinsp – prinsip yang Akuntansi yang Berlaku Umum) yang ditetapkan  oleh Financial Accounting Standards Board (FASB = Badan Standar Akuntansi Keuangan) serta badan – badan pengatur lainnya.

f.     Penyampaian hasil diperoleh melalui laporan tertulis yang menunjukkan derajat kesesuaian antara asersi dan kriteria yang telah ditetapkan.

Pihak – pihak yang berkepentinganadalah mereka yang menggunakan (atau mengandalkan) temuan – temuan auditor. Dalam lingkungan bisnis, mereka adalah para pemegang saham, manajemen, kreditor, kantor pemerintah, dan masyarakat luas.





1.2              Propesi Akuntan Pablik

Menurut catatan seorang ahli sejarah akuntansi, dikatakan bahwa, “asal usul auditing dimulai jauh lebih awal dibandingkan dengan asal usul akuntansi. Ketika kemajuan peradaban membawa pada kebutuhan akan adanya orang yang dalam batas tertentu dipercaya untuk mengelola harta milik orang lain, maka dipandang patut untuk melakukan pengecekan atas kesetiaan orang tersebut, sehingga semuanya akan menjadi jelas”.

        Pada awalnya, audit terhadap perusahaan harus dilakukan oleh satu atau lebih pemegang saham yang bukan merupakan pejabat perusahaan, serta mereka yang ditunjuk oleh pemegang saham lainnya sebagai perwakilan pemegang saham. Profesi akuntansi segera bangkit dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan pasar serta perundangan yang segera direvisi, sehingga memungkinakn orang yang bukan pemegang saham dapat melkukan audit. Hal ini mendorong munculnya berbagai formasi kantor audit.

Bangkitnya Profesi Auditor di A.S.

        Pada tahun 1896, Negara bagian New York menjadi yang petama dalam pembuatan perundangan yang mengatur lisensi CPA. Pada tahun 1921, empat puluh delapan Negara bagian telah menerbitkan perundangan serupa. Pada tahun 1917, American Institute of Accountants didirikan.. institute tersebut kemudian berganti nama menjadi American Institute of Certified Public Accountants (AICPA).

        Selama awal tahun 1900-an, permintaan audit menigkat demikian besar sebagai akibat pertumbuhan kepemilikan public yang sangat cepat ataas sekuritas perusahaan. Bersamaan dengan itu, adanya kebutuhan akan pelaporan keuangan yang seragam menjadi semakin jelas.

        Pada tahun 1932, New York Stock Exchange (NYSE) mengesahkan persyaratan yang mengharuskan semua perusahaan yang terdaftar mendapatkan sertifikat audit dari CPA independen. Terbitnya Securities Art pada tahun 1933 serta Securities Exchange Art  pada tahun 1934, lebih meningkatkan permintaan kan jasa audit untuk perusahaan – perusahaan yang dimiliki public.

        Pada tahun 1940-an secara perlahan telah terjadi tiga perubahan penting atas praktif audit, yaitu :

1.   Suatau pergeseran dari verifikasi rinci atas akun –akun menjadi penarikan sampel atau pengujian sebagai dasar untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan.

2.   Pengembangan praktik mengaitkan pengujian yang akan dilakukan pada evaluasi auditor atas pengendalian intern perusahaan.

3.   Mengurangi penekanan atas deteksi kecurangan sebagai tujuan audit.



Selama tahun 1980-an, pengetahuan yang diperlukan pada semua bidang tumbuh cepat. profesi akuntan publik mengambil langkah lain untuk meyakinkan tinginya mutu jasa profesional. Profesi akuntan juga mengembangkan standar atestasi baru.

Pada tahun 1990-an dimulailah tahap transisi untuk industri akuntansi dan auditing. Saat itu praktik bisnis sedang berubah cepat, dan teknologi informasi memberikan dampak yang besar pada akuntansi. Teknologi telah menyediakan lebih banyak informasi bagi para pembuat keputusan.



Memandang ke Depan    

Para auditor telah mengembangkan reputasi untuk menjadi ahli dalam akuntans keuangan dan juga ahli dalam memahami faktor – faktor kunci untuk bersaing dalam bisnis atau industri. Pada tahun – tahun terakhir ini, AICPA telah melaksanakan dua proyek yang meberikan pandangan masa depan bagi profesi di abad kedua puluh satu.

        Pertama, AICPA menjadi sponsor pada proyek Visi CPA. Oleh karena perusahaan, pemerintah, dan perorangan dipaksa untuk mempercepat perubahannya sendiri, amaka mereka memerlukan CPA sebagai tempat bergantung untuk bertahan atau keluar dari keadaan itu.

        Kedua, AICPA membentuk Special Comitte on Assurance Services untuk memberikan rekomendasi yang lebih luas pada jasa berbasis pasar dalam mengisi kesenjangan pasar guna memperbaiki pengambilan keputusan jasa yang dibangun atas reputasi yang didapat oleh para auditor berupa pengetahuan bisnis, integritas, dan objektivitas.



1.3              Jasa yang Dilaksanakan Kantor CPA



Gambar 1.4 Bidang jasa CPA
















“Assurance Services adalah jasa profesional independen yang mampu meningkatkan mutu informasi, atau konteksnya, untuk kepentingan para pengambil keputusan.”



        Auditing adalah salah satu jasa kunci yang termasuk dalam lingkup luas assurance services. Kenyataannya, jasa audit telah menjadi dasar di mana lingkup yang luas dari jasa atestasi dan assurance services sedang dikembangkan. Berikut adalah pembahasan tentang aspek-aspek kunci dari assurance services.

        Salah satu aspek kunci tersebut adalah konsep independensi. Para pengguna jasa sangat mengandalkan independensi CPA serta dapat menarik manfaat yang benilai dari kenyataan bahwa CPA bersifat tidak memihak dan objektif.

        Konsep jasa profesional meliputi aplikasi pertimbangan profesional, yang merupakan ciri unik yang dibawa CPA dalam perikatan. Meskipun kemajuan teknologi informasi dapat mempercepat pengumpulan atau analisis data, namun teknologi tersebut tidak dapat menggantikan pertimbangan profesional seorang praktisi.

        Assurance services meningkatkan mutu informasi dengan cara meningkatkan keandalan atau relevansinya. Komite khusus tersebut memberikan devinisi keandalan dan relefansi sebagai berikut.

a.    Keandalan meliputi penyajian yang jujur, netralitas, konsistensi antarperiode.

b.   Relevansi meliputi dapat dipahami, dapat diperbantingkan dengan entitas lain, dapat digunakan, dan kelengkapan.



Beberapa contoh assurance services adalah sebagai berikut:

1.      Jasa penilaian risiko, di mana CPA dapat meningkatkan mutu informasi risiko untuk para pengambil keputusan internal melalui penilaian independen mengenai kemungkinan suatu peristiwa atau tindakan dan berpengaruh buruk pada kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan bisnis serta melaksanakan strateginya dengan berhasil.

2.      Jasa penilaian kinerja berfokus pada pemberian keyakinan berkenaan dengan penggunaan ukuran-ukuran keuangan dan nonkeuangan oleh organisasi untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi kegiatan.

3.      Assurance perawatan lansia merupakan jasa potensial di mana para CPA dapat menyediakan jaya yang bernilai bagi anggota keluarga dengan cara memberikan keyakinan bahwa tujuan pemeliharaan dapat tercapai untuk para anggota keluarga berusia lanjut yang tidak lagi dapat mandiri sepenuhnya. Tujuan jasa ini adalah untuk memberikan pihak ketiga (anak, anggota keluarga, atau piha lain yang berkepentingan) bahwa kebutuhan para lansia dapat terpenuhi.

Jasa Akuntansi dan Komplikasi

        Kantor CPA mungkin mendapat tugas dari klien untuk melaksanakan jasa akuntansi (accounting services) yang beragam. Termasuk dalam jasa ini adalah menyusuk pembukuan manual ataupun yang telah diotomatisasi, membuat jurnal, membukukan ayat jurnal penyesuaian, serta menyiapkan dan menyusun laporan keuangan. Yang terakhir juga dikaitkan dengan jasa komplikasi (compilation services). Ketika CPA melakukan kompilasi atas seberkas laporan keuangan, CPA tidak memberikan keyakinan tentang apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai GAAP.



Jasa Atestasi

Jasa atestasi (attest services) merupakan salah satu jasa di mana kantor CPA mengeuarkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu kesimpulan tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain. Selanjutnya jasa atestasi ini dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu audit, pemeriksaan, review, dan prosedur, seperti berikut ini.

Audit

        Contoh utama dari jasa audit (audit services) adalah audit laporan keuangan. Jenis audit ini meliputi upaya memperoleh dan mengevaluasi bukti yang mendasari laporan keuangan historis yang memuat asersi  yang bibuat oleh menejmen entitas. Berdasarkan audit tersebut, CPA memberikan pernyataan pendapat “positif” tentang apakah laporan tersebut telah menyajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Perhatikan bahwa istilah “positif” berarti pasti atau yakin, termasuk juga untuk keadaan yang kurang menguntungkan, yaitu ketika bukti-bukti yang diperoleh dalam audit telah membawa CPA pada suatu kesimpulan yang positif (pasti) bahwa laporan tidak sesuai dengan GAAP. Fokus utama dari audit adalah menyajikan satu berkas laporan keuangan tahunan yang menyertai suatu laporan audit tahunan kepada investor dan pengguna lain.





Pemeriksaan

        Istilah pemerikasaan (examination) digunakan untuk menguraikan jasa lain yang muncul dalam pernyataan positif suatu pendapat tentang kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan. Contoh pemeriksaan meliputi pemeriksaan:

1.          Laporan keuangan prospektif (bukan historis),

2.          Asersi manajemen tentang efektivitas struktur pengendalian intern entitas, dan

3.          Keputusan entitas terhadap perundangan dan peraturan tertentu.



Review

        Jasa review (review services) terutama terdiri dari permintaan keterangan dari manajemen entitas serta anaisis korporatif atas informasi keuangan. Tujuan review  adalah untuk memberikan “keyakinan negatif” sebagai lawan dari pernyataan positif yang diberikan pada suatu audit. Dengan demikian, daripada menyatakan “tidak menyajikan secara wajar sesuai GAAP”, suatu laporan yang dibuat berdasarkan review laporan keuangan akan menyatakan bahwa pe-review “tidak mendaoatkan adanya modifikasi material yang harus dibuat dalam laporan keuangan agar sesuai dengan GAAP.

Prosedur yang Disepakati

        Lingkup kerja dalam melaksanakan prosedur yang disepakati (agreedupon procedures) juga lebih sempit dibandingkan dengan jasa audit dan jasa pemeriksaan. Untuk jenis jasa ini, kantor CPA dapat menerbitkan suatu “ringkasan temuan”.













Jasa – Jasa Lain

        Jenis utama jasa-jasa lain yang diberikan oleh kantor CPA adalah jasa teknologi, koonsultasi manajemen, perencanaan keuangan, serta jasa internasional. Ciri umum dari jasa-jasa ini adalah bahwa jasa ini tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negative, ringkasan temuan, atau bentuk lain dari keyakinan. Namun demikian, jasa-jasa ini dapat diberikan oleh kantor CPA yang sama yang sedang melaksanakan audit.



Jasa Teknologi

        CPA memberikan jasa teknologi (technology services) dalam bentuk analisis sitem, manajemen informasi, serta pengamanan sistem. Para CPA adalah tenaga yang ahli dalam mengevaluasi pengendalian intern entitas serta telah mengembangkan keahliannya dalam membantu klien untuk merancang sistem informasi dan pengendalian, sistem untuk mendukung perencanaan keuangan, sistem untuk mendukung kebutuhan pengambilan keputusan lainnya, serta membuat rekomendasi untuk meningkatkan pengamanan sistem.



Konsultasi Manajemen

        Dalam melaksanakan jasa konsultasi manajemen (management consulting services), para praktisi mendayagunakan keahlian teknis, pendidikan, dan pengalaman mereka untuk memebrikan nasihat dan bantuan teknis kepada klien. Jasa ini dapat membantu klien untuk meningkatkan penggunaan kemampuan dan sumberdaya mereka dalam mencapai tujuan. Proses konsultasi meliputi perumusan masalah atau peluang, mencari fakta, mengevaluasi alternatif, merumuskan rencana tindakan, mengkomunikasikan hasil, menerapkan rencana tindakan, serta tindak lanjut. Namun konsultan CPA independen harus berhenti sesaat sebelum manajemen membuat keputusan.







Perencanaan Keuangan

        Jasa perencanaan keuangan (financial planning services) meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan perencanaan pajak dan analisis laporan keuangan untuk menyusun struktur portofolio investasi serta transaksi keuangan yang kompleks untuk bisnis.



Internasional

         Dengan bertumbuhnya perniagaan secara elektronik (e-commerce), banyak perusahaan yang berurusan dengan aspek internasional dari bisnis mereka yang beberapa tahun sebelumnya tak pernah terbayangkan. CPA menyediakan beragam jasa intenasional (international services) seperti perencanaan pajak lintas batas, atau bantuan dalam penyusunan merger maupun kerja sama multinasional.




Pengauditan Siklus Produksi Persediaan


PEMBAHASAN



1.1              Sifat Siklus Produksi – Persediaan

Siklus ini secara garis besar mencakup berbagai fungsi dan kegiatan  perusahaan yang berkaitan dengan konversi bahan baku ke barang jadi. Fungsi dan kegiatan tersebut antara lain:

1.          Perencanaan produksi,

2.         Pengendalian jenis dan jumlah produksi,

3.         Pengendalian tingkat persediaan,

4.        Berbagai transaksi maupun kejadian yang berhubungan dengan proses produksi seperti pembebanan biaya ke harga pokok produksi



1.2              Persediaan

Persediaan sangat kompleks dan merupakan bagian yang menyita banyak waktu auditor. Alasan yang mendukung hal ini antara lain:

1.         Pada sebagian perusahaan, Persediaan merupakan item utama dalam neraca.

2.         Persediaan pada umumnya juga merupakan item utama yang mempengaruhi rekening-rekening yang mempengaruhi laba- rugi.

3.         Berbagai jenis persediaan yang ada mengakibatkan auditor sering asing dengan persediaan tersebut, misalnya permata, emas, dan bahan kimia. Hal ini menimbulkan problem observasi dan penilaian perusahaan.

4.         Persediaan kadang terletak pada berbagai tempat atau lokasi yang berjauhan. Hal ini menimbulkan problem pengendalian fisik dan perhitungan.



Rekening-rekening yang terkait dengan siklus produksi dan persediaan, antara lain sebagai berikut:

a.         Persediaan bahan baku

b.         Persediaan bahan pembantu

c.         Persediaan barang dalam proses

d.         Persediaan barang jadi

e.         Biaya tenaga kerja langsung

f.          Biaya overhead pabrik

g.         Biaya reparasi dan perbaikan

h.         Biaya bahan bakar atau listrik

i.           Harga pokok produksi

j.           Harga pokok penjualan

k.         Utang dagang

l.           Biaya dibayar dimuka

m.       Biaya depresiasi mesin dan peralatan pabrik

n.         Biaya deplesi persediaan

o.         Akumulasi depresiasi mesin dan peralatan pabrik

p.         Akumulasi deplesi persediaan



1.3              Tujuan Audit Siklus Produksi – Persediaan 

Tujuan audit siklus produksi adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus produksi.Tujuan ditentukan berdasar lima kategori asersi yaitu:

1.         Asersi Keberadaan atau Keterjadian

Dalam asersi ini, auditor menekankan pada apakah harga pokok produksi yang tercatat menggambarkan berbagai biya produksi yang benar-benar terjadi selama periode bersangkutan.



2.         Asersi Kelengkapan

Assersi ini menekankan pada pakah seluruh biaya produksi yang terjadi dalam suatu periode telah dicatat dan disajikan dalam laporan laba-rugi sebagai harga pokok produksi



3.         Asersi Hak dan Kewajiban

Dalam  asersi ini, auditor berusaha memastikan apakah perusahaan mempunyai hak kepemilikan yang sah atas persediaan baik yang ada dalam perusahaan maupun yang ada dipihak ketiga.



4.         Asersi Penilaian dan Pengalokasian

Dalam  asersi ini, auditor akan berusaha memperoleh bukti apakah saldo harga pokok produksi, berbagai biaya produksi, dan persediaan telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat.



5.         Asersi Pelaporan dan Pengungkapan

Adapun mengenai rincian tujuan audit asersi pelaporan dan pengungkapan adalah sebagai berikut:

a.    Persediaan digolongkan sebagaimana mestinya dalam neraca    sebagai aktiva lancar.

b.    Berbagai biaya produksi telah tepat dikelompokkan ke dalam laporan keuangan.

c.    Adanya pengungkapan dasar atau metode penilaian persediaan yang memadai dan konsisten.

d.    Persediaan yang digadaikan atau diungkapkan ke perusahaan lain telah diungkapkan secara memadai.



1.4              Materialitas

Transaksi-transaksi dalam siklus produksi dan persediaan ini sering sekali sangat material bagi perusahaan manufaktur. Banyak rekening individual yang berkaitan dengan siklus produksi yang material seperti biaya tenaga kerja langsung, bahan bakar, atau listrik pabrikasi, reparasi dan perbaikan, perlengkapan kerja, dan biaya overhead pebrik lain.



1.5              Resiko Bawaan – Persediaan

Secara spesifik faktor-faktor yang membuat tingginya resiko bawaan siklus produksi-persediaan yaitu:



1.    Folume pembelian, produksi dan transaksi penjualan sangat tinggi sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan.

2.    Selalu muncul permasalahan berkaitan dengan identifikasi dan pengukuran biaya-biaya persediaan seperti bahan pembantu, tenaga kerja, overhead pabrik, biaya bersama, disposisi variance biaya, akuntansi untuk barang rusak, dan isu-isu akuntansi biaya.

3.    Berbagai jenis persediaan sering menuntut penggunaan prosedur khusus untuk menentukan kuantitas perssediaan.

4.    Lokasi penempatan persediaan belum tentu di satu tempat. Perbedaan lokasi ini memperumit pengendalian fisik persediaan terhadap pencurian, kerusakan, dan perlakuan barang yang ada dalam transit antara dua lokasi.

5.    Diversitas persediaan membuat masalah untuk penetuan kualitas dan harga pasarnya.

6.    Persediaan terpengaruh juga oleh kondisi perekonomian umum terutama berkaitan dengan tren yang mempengaruhi laku tidaknya barang sehingga memerlukan pertimbangan khusus dalam penentuan harga.



1.6              Strategi Audit – Persediaan

Tingginya risiko bawaan siklus produksi–persediaan menyebabkan banyak perusahaan memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian intern siklus produksi dan persediaan untuk mencegah dan mendeteksi salah saji.



1.7              Pertimbangan Struktur Pengendalian Intern

Risiko dapat timbul atau berubah karena keadaan yang berhubungan dengan siklus produksi.

1.         Informasi dan Komunikasi (Sistem Akuntansi)

2.         Pemantauan

3.         Aktivitas Pengendalian

4.         Pemisahan Tugas.

5.         Perencanaan dan Pengendalian Produksi

6.         Pengeluaran Bahan Baku (Material)

7.         Pengolahan Barang  dalam Produksi

8.         Perlindungan Persediaan Pemanufakturan

9.         Penetuan dan Pencatatan Biaya atau Harga Pokok Pemanufakturan (Produksi)

10.     Penjagaan Ketepatan Saldo Persediaan



1.8              Penghipunan dan Pendokumentasian Intern

Penghimpunan pemahaman dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan atau wawancara, observasi,menelaah dokumen, atau menelaah kembali pengalaman auditor pada audit periode sebelumnya dengan klien tersebut. Dokumentasi pemahaman dapat dilakukan dengan kuesioner, flowchart, atau memo naratif (uraian tertulis).

1)        Review Pendahuluan

2)        Dokumentasi Sistem

3)        Menganalisa Alur Transaksi



1.9              Penetapan Resiko Pengendalian

Penetapan risiko pengendalian merupakan proses pengevaluasian efektivitas kebijakan dan prosedur pengendalian intern dalam mencegah dan mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan. Langkag ini dilakukan dengan menelaah pengalaman dengan klien pada tahun-tahun sebelumnya, dan jika perlu dilakukan penelitian terhadap manajemen dan personel produksi, menginspeksi dokumen produksi, dan pengobservasi aktivitas produksi.



1.10          Pengujian Pengendalian Persediaan

Prosedur Pengujian pengendalian yang dapat diterapkan untuk siklus persediaan dibedakan atas:

1.         Pengujian pengendalian catatan perpetual

2.         Pengujian pengendalian pembebanan biaya ke barang dalam proses.





1.11          Pengujian Subtantif Saldo Persediaan

Pengujian substantif saldo persediaan diterapkan atas ketiga jenis persediaan, yaitu: persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi.



1.12          Penetapan Resiko Deteksi

Penentuan jenis prosedur, luas pengujian, dan penentuan waktu pelaksanan sangat tergantung pada besar kecilnya risiko deteksi. Penetapan besarnya risiko deteksi ini dipengaruhi risiko bawaan dan risiko pengendalian berbagai transaksi yang mempengaruhi saldo persediaan, serta tingkat risiko audit yang dapat diterima.



1.13          Pertimbangan Program audit

Ada pun prosedur pengujian substantif yang dapat digunakan dalam pertimbangan program audit antara lain sebagai berikut:

1.    Prosedur Inisial

Dalam menelaah saldo awal persediaan, auditor hendaknya menentukan bahwa penyesuaian audit berkaitan dengan catatan periode tahun lalu.



2.    Penerapan Prosedur Analisis

Rasio yang dapat dipergunakan dalam prosedur analitis ini, antara lain:

a)         Rate of gross profit,

b)         Merchandise infentory turnover,

c)         Number of sales in inventory,

d)         Rasio persediaan per aktiva lancar.



3.    Pengujian Detail Transaksi

Pengujian ini meliputi prosedur untuk menelusuri dan mengusut data-data persediaan untuk mendapatkan bukti mengenai pemrosesan transaksi individual yang mempengaruhi saldo persediaan.



4.    Observasi Perhitungan Persediaan Klien

Prosedur pengamatan persediaan klien merupakan prosedur auditing yang diterima

umum. Prosedur ini sangat menyita banyak waktu dan biaya.



5.    Vouching Pembelian Tercatat dengan Dokumen Pendukung.

Dokumen yang digunakan dalam transaksi pembelian meliputi order pembelian, laporan penerimaan barang, dan faktur dari pemasok.



6.    Mempertimbangkan Bukti dari Tes Pisah Batas Penjualan dan pembelian



7.    Pengujian Detil Saldo

Dalam  pengujian ini ada beberapa prosedur yang digunakan antara lain:

a.          Observasi penghitungan persediaan fisik Klien

b.         Waktu dan luas pengujian

c.          Perencanan penghitungan persediaan

d.         Melakukan pengujian

e.          Mengajukan pertanyaan pada manajemen mengenai kepemilikan

f.           Menelaah data mengenai kualitas persediaan



8.    Pengujian Penetapan Harga Persediaan

Pegujian ini terdiri atas dua langkah yaitu:

a.          Menentukan ketepatan dan konsistensi penentuan harga persediaan

b.         Membandingkan harga pokok per unit yang digunakan klien ke dokumen pendukungnya.



9.    Menelah Penyajian dan Pengungkapan Persediaan dalam laporan Keuangan

Prosedur pengujian ini berkaitan erat dengan asersi penyajian dan pengungkapan. Auditor harus memahami persyaratan penyajian dan pengungkapan persediaan dan harga pokok produksi serta harga pokok  penjualan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.


SAMPLING AUDIT

1.1              Definisi dan Tujuan Sampling Audit Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 35...