Monday, 4 December 2017

SAMPLING AUDIT




1.1             Definisi dan Tujuan Sampling Audit

Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 350 mendefinisikan sampling audit sebagai :



“penerapan prosedur audit terhadap unsure-unsur suatu saldo akun atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.”



Sampling audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian pengendalian maupun pengujian substantive. Meskipun demikian, auditor biasanya tidak menerapkan sampling audit dalam prosedur pengujian yang berupa pengajuan pertanyaan atau tanya jawab, observasi, dan prosedur analitis. Sampling audit banyak diterapkan auditor dalam prosedur pengujian yang berupa vouching, tracing, dan konfirmasi. Sampling audit, jika diterapkan dengan semestinya akan dapat menghasilkan bukti audit yang cukup, sesuai dengan yang diinginkan standar pekerjaan lapangan yang ketiga.



1.2             Pendekatan Sampling Audit

Standar Profesional Akuntan Publik pada Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan bahwa:

“bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”

Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit yang dapat dipilih auditor untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup. Kedua pendekatan tersebut adalah :



a.        Sampling

Sampling statistik lebih banyak memerlukan biaya daripada sampling non statistik. Namun, tingginya biaya dapat dikompensasi dengan tingginya manfaat yang dapat diperoleh melalui pelaksanaan sampling statistik. Sampling statistik menguntungkan manajemen dalam tiga hal berikut :



a.              Perencanaan sampel yang efisien

b.             Pengukuran kecukupan bukti yang dihimpun

c.              Pengevaluasian hasil sampel

Disamping itu, sampling statistik mendukung auditor untuk mengkuantufikasi dan mengendalikan risiko sampling. Ada dua macam tehnik sampling statistik, yaitu :

a.              Attribute sampling

b.             Variables sampling



c.              Sampling Non Statistik

Sampling non statistik merupakan sampel yang dilakukan berdasarkan criteria subyektif. Auditor dapat menentukan besarnya sampel yang diambil dalam sampling non statistik, dengan melakukan pertimbangan subyektif berdasarkan pengalamanannya. Pelaksaan evaluasi atas sampel juga dilakukan berdasar kriteria subyektif dan pengalaman auditor yang bersangkutan.



1.3             Resiko Sampling dan Nonsampling

Dalam sampling audit, resiko terbagi menjadi 2, yaitu resiko sampling dan resiko non sampling.



1.         Resiko Sampling

Risiko sampling adalah kemungkinan bahwa suatu sampling yang telah diambil dengan benar tidak mewakili populasi. Tipe risiko sampling yang bisa terjadi dalam melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif :

a.     Pengujian Pengendalian

-      Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah, yaitu risiko menetukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur pengendalian yang sesungguhnya.

-      Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu tinggi dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur pengendalian yang sesungguhnya.



b.     Pengujian Substantif

-     Risiko keliru menerima yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo rekening telah salah saji secara material.

-     Risiko keliru menolak yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo rekening tidak berisi salah sajis secara material.

Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu rendah dan risiko keliru menerima, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko beta adalah berkaitan dengan efektivitas audit. Sebaliknya, risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu tinggi dan risiko keliru menolak, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko alpha adalah berkaitan dengan efisiesnsi audit.



2.         Resiko Nonsampling

Risiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling. Risiko nonsampling tidak bisa diukur secara sistematis. Namun demikian, dengan perencanaan dan supervisi yang tepat dan berlandaskan pada standar kualitas mutu, risiko nonsampling dapat ditangani pada tingkat yang minimal atau tidak berarti lagi.



Sumber risiko sampling meliputi :

1.         Kesalahan manusia.

2.         Ketidaktepatan penerapan prosedur audit terhadap tujuan audit.

3.         Kesalahan dalam menafsirkan hasil sampel.

Kesalahan karena mengandalkan pada informasi yang keliru yang diterima dari pihak lain.



1.4             Sampling Audit dalam Pengujian Substantif

Standar Profesional Akuntan Publik 350. Par 16 menyebutkan berbagai faktor yang harus dipertimbangkan auditor dalam perencanaan sampel atas pengujian substantive. Faktor-faktor tersebut meliputi :

a.                  Hubungan antara sampel dengan tujuan audit yang relevan yang harus dicapai.

b.                  Pertimbangan pendahuluan atas tingkat tingkat materialitas.

c.                  Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima auditor.

d.                  Karakteristik populasi.

Disamping faktor tersebut diatas auditor harus cermat dalam mempertimbangkan pula hal-hal berikut :

1.      Pemilihan sampel

2.      Pelaksanaa evaluasi atas hasil sampel


KONSEP AKTIVA




1.        KARATERISTIK AKTIVA

     Karakteristik aktiva berkaitan dengan kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan apakah transaksi tertentu diakui sebagai elemen aktiva dalam laporan keuangan. Karakteristik tersebut berhubungan dengan definisi aktiva.

Karakteristik umum aktiva sebagai berikut :

1.    Adanya karakteristik manfaat dimasa mendatang

2.    Adanya pengorbanan ekonomi untuk memperoleh aktiva

3.    Berkaitan dengan entitas tertentu 

4.    Menunjukkan proses akuntansi

5.    Berkaitan dengan dimensi waktu

6.    Berkaitan dengan karakteristik keterukuran

 

     FASB mendefinisikan aktiva adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu.

     Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa definisi aktiva memiliki 3 karakteristik utama:  

1.    Memiliki Manfaat Ekonomi Dimasa Mendatang

Sesuatu dikatakan sebagai aktiva apabila memiliki manfaat atau potensi jasa yang cukup pasti dimasa mendatang.Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan baik secara individu maupun bersama-sama dengan aktiva lain untuk menghasilkan aliran kas masuk dimasa mendatang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

SFAC No 6 menyebutkan bahwa manfaat ekonomi merupakan esensi sebenarnya dari aktiva. Artinya aktiva harus memiliki kemampuan bagi suatu entitas untuk ditukar dengan sesuatu yang lain yang memiliki nilai, atau digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai atau digunakan untuk melunasi hutang.Jadi manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva merupakan potensi dari aktiva tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada perusahaan.

Manfaat ekonomi masa mendatang dapat juga berhubungan dengan sumber-sumber ekonomi. Ada dua karakteristik utama yang dapat digunakan untuk menunjukkan sumber-sumber ekonomi yaitu kelangkaan dan kemanfaatan. APB dalam statement No 4 memberikan contoh sumber ekonomi perusahaan sebagai berikut:

a.    Sumber-sumber ekonomi yang produktif

1.    Bahan baku, tanah, peralatan, paten, dan sumber-sumber lain yang digunakan dalam produksi.

2.    Hak kontrak untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi milik unit usaha lain seperti hak guna bangunan dsb.

b.    Produk yaitu barang yang siap untuk dijual/ barang yang masih dalam proses produksi.

c.    Uang

d.    Klaim untuk menerima uang

e.    Hak pemilikan pada perusahaan lain

 

2.    Dikuasai Oleh Suatu Unit Usaha

Sesuatu dapat dikatakan sebagai aktiva bila unit usaha tertentu dapat menggunakan manfaat aktiva tersebut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses pihak lain terhadap aktiva tersebut. Jadi penguasaan terhadap suatu manfaat merupakan faktor yang sangat penting agar suatuunit usaha dapat menghalangi akses pihak lain terhadap pemakaian aktiva. Penguasaan dan pengendalian terhadap suatu aktiva dapat diperoleh suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian, Penemuan, perjanjian, produksi, penjualan, dan pertukaran.

Perlu diperhatikan bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk mengakui suatu aktiva. Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang sah menurut hukum terhadap suatu barang. Hal ini disebabkan akuntansi tidak memusatkan pada masalah hukum. Akuntansi lebih memusatkan pada substansi ekonomi suatu transaksi yang mempengaruhi posisi keuangan/ hasil usaha suatu perusahaan. Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui aktiva karena ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik bukan faktor penentu dari aktiva  

3.    Hasil Dari Transaksi Masa Lalu

Suatu unit usaha dapat mengakui suatu aktiva apabila telah terjadi transaksi atau peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian terhadap manfaat dari aktiva tersebut. Meskipun definisi FASB tersebut dapat diterima secara umum, banyak kritik yang ditujukan. Hal ini disebabkan dalam definisinya, FASB mengabaikan faktor exchangeability.

Mac Neal mengatakan bahwa suatu barang kehilangan faktor exchangeability berarti kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekat padabarang tersebut. Meskipun demikian, FASB menolak ise tersebut karena pada dasarnya manfaat darisuatu aktiva tidak terbatas pada unsur dapat saling dipertukarkan.

 

2.         KONSEP PENILIAN

  Konsep penilaian berkaitan dengan masalah penentuan makna yang ingin disampaikan pada pemakai laporan terhadap aktiva yang bersangkutan. Konsep penilaian harus didasarkan pada nilai pertukaran atau konversi.



  

A.       TUJUAN

Adapun tujuan pengukuran atau penilaian aktiva adalah sebagai berikut :

a.    Sebagai salah satu langkah dalam penentuan laba.

b.    Sebagai salah satu langkah dalam proses penyajian posisi keuangan.

c.    Memenuhi kebutuhan informasi yang ingin dicapai dalam pelaporan keuangan.

d.    Memenuhi kebutuhan informasi khusus yang memerlukan penilaian untuk kepentingan manajemen.



B.       DASAR PENILAIAN

Penilaian aktiva berkaitan dengan penentuan nilai pertukaran dari aktiva tersebut. Hendriksen (1982) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran yang dapat digunakan yaitu nilai keluaran (output values) dan nilai masukan (input values).

1)      Nilai Keluaran

Nilai keluaran didasarkan padajumlah kas atau non kas yang diterima suatu unit usaha bila suatu aktiva atau potensi jasa akhirnya keluar dari unit tersebut karena suatu pertukaran. Apabila nilai tersebut tidak relevan, ada dasar lain yang dapat digunakan yaitu :

a.         Discounted future cash receipts or service potential

Adalah nilai sekarang kas masa yang akan diterima perusahaan seandainya aktiva tersebut dijual.

b.         Harga keluaran sekarang (Current output price)

Apabila produk perusahaan umumnya dijual di pasar yang terorganisis, harga pasar sekarang merupakan dasar yang rasional untuk menilai besarnya harga jual di masa mendatang.

c.         Nilai setara kas sekarang ( Current cash Equivalent ).

Nilai setara kas sekarang menunjukkan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat diperoleh dengan menjual setiap aktiva berdasarkan keadaan perusahaan normal.

d.         Nilai Likuidasi (Liquidation value).

Nilai likuidasi sama dengan harga jual sekarang atau nilai setara kas sekarang, dengan perbedaan bahwa nilai keluarannya diperoleh dari kondisi pasar yang berbeda.

2)      Nilai Masukan

Dalam menilai aktiva, nilai masukan sering dianggap lebih tepat daripada nilai keluaran karena nilai tersebut lebih dapat diuji kebenarannya atau nilai tersebut tidak memungkinkan dilakukannya pelaporanpendapatan sebelumpendapatan benar-benar terealisasi. Dasar yang dapat digunakan untuk nilai masukan adalah sebagai berikut:

a.       Cost histories

 merupakan harga pertukaran barang dan jasa pada saat terjadinya.

b.      Cost masukan terkini (Current input cost)

Menunjukkan harga pertukaran yang harus dikorbankan pada saat sekarang untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama.

c.       Discounted future cost

Menunjukkan nilai sekarang pengorbanan ekonomi di masa mendatang seandainya potensi jasa tertentu diperoleh sekaligus pada saat sekarang.

d.      Standart cost

Menunjukkan cost sekarang dalam kondisi perusahaan beroperasi pada tingkat efisiensi dan kapasitas produksi normal.

3.        PENGAKUAN AKTIVA

  Penentuan definisi aktiva merupakan langkah pertama dalam proses identifikasi suatu aktiva. Apabila jumlah rupiah tertentu akan mempengaruhi posisi keuangan/hasil usaha dan akan tampak dalam neraca.

FASB(1984) menyatakan pengakuan suatu pos didasarkan pada 4 kriteria, sebagai berikut  :

1.         Definisi

Suatu pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memenuhi definisi elemen laporan keuangan.

2.         Keterukuran

Suatu pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur jumlahnya dengan reliabilitas yang tinggi.

3.         Relevansi

Informasi yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan untuk membuat suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemakai laporan keuangan.

4.         Reliabilitas

Informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya dan netral.

     Dalam praktik ada beberapa pos yang memenuhi kriteria definisi tapi tidak dicatat dalam stuktur akuntansi.penerapan definisi dalam dunia nyata melibatkan sejumlah kondisi yang dinamakan aturan pengakuan(recognized rules). 

  Beberapa aturan secara informal diwujudkan dalam bentuk konvensi atau hal lain yang secara formal dirancang oleh badan yang berwenang. Contoh aturan menurut konvensi adalah piutang dagang dicatat bila penjualan kredit dilakukan dan peralatan dicatat saat pembelian. Contoh aturan yang didasarkan pada keputusan badan berwenang adalah capital lease.Dalam SFAS No.13 “accounting for lease” disebutkan bahwa kapitalisasi lease (sewa gung usaha) hanya dilakukan bila salah satu/lebih kriteria ini dipenuhi:

a.    Adanya transfer hak milik kepada pembeli (lessee)

b.    Kontrak menyebutkan adanya hak boleh pilih untuk membeli dengan syarat yang menguntungkan pembeli

c.    Jangka waktu leasing 75% atau lebih dari sisa taksiran umur ekonomi pada saat kontrak ditandatangani

d.    Nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan 90% dari nilai pasar yang wajar dari aktiva yang disewa terhitung sejak kontrak dimulai.

  Praktik menunjukkan banyak aturan yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Aturan pengakuan menunjukkan aturan khusus yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Sedang kriteria pengakuan merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan aturan pengakuan. Tujuan akuntansi adalah memberikan dasar bagi kriteria pengakuan, yaitu menyediakan informasi yang relevan dan reliable. Kam (1992) memberikan beberapa kriteria yaitu:

1)                  Didasarkan pada hukum

2)                  Pemakaian prisip koservatif

3)                  Makna /substansi ekonomi suatu transaksi

4)                  Kemampuan mengukur nilai aktiva



4.        MASALAH – MASALAH KHUSUS AKTIVA

A.  Beban Tangguhan

Beban tangguhan sering menjadi masalah dalam penentuan jenis aktiva. Masalah tersebut adalah; apakah beban tangguhan dapat digolongkan sebagai aktiva? Jenis beban tangguhan yang mana yang dapat digolongkan sebagai aktiva?

Beban tangguhan tidak hanya menyangkut cost dalam bentuk fisik tetapi termasuk juga cost jasa dalam bentuk lain selama memenuhi kriteria sebagai beban tangguhan. Kriteria umum yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan beban tangguhan adalah:

a)         Apakah cost jasa tersebut merupakan pengeluaran pengeluaran yang sah dan wajar?

b)        Apakah cost jasa tersebut merupakan suatu faktor yang manfaatnya dimasa mendatang dapat diantisipasi dengan mudah?

c)         Apakah cost tersebut merupakan jenis pengeluaran yang terjadi berulang-ulang setiap periode?

Ukuran manfaat tidak hanya didasarkan pada kemampuan untuk menambah volume produk tapi lebih ditekankan pada manfaat yang berhubungan dengan kegiatan operasi perusahaan dimasa mendatang secara keseluruhan. Dalam praktek, beberapa pos yang sebenarnya berbeda sifat sering dikelompokkan dalam neraca dengan satu judul yaitu “beban tangguhan”. Misalnya:biaya dibayar dimuka,cost pendirian perusahaan, cost penelitian dan pengembangan, dan diskonto surat berharga. Walaupun itu sebenarnya kurang tepat.

 

B.   Kapitalisasi Bunga  

Ada beberapa perlakuan akuntansi bunga :

1.    Bunga tidak dikapitalisasi

2.    Bunga dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai eleman cost fasilitas fisik yang dibangun sendiri

3.    Bunga dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen cost fasilitas fisik yang dibangun

Dalam kondisi tertentu mungkin saja tidak perlu dilakukan kapitalisasi apabila memang manfaatnya kecil. Bunga hanya dapat dikapitalisasi untuk aktiva yang memenuhi syarat tertentu.

Besarnya bunga yang dikapitalisasi secara teoritis adalah tambahan bunga yang diperkirakan terjadi selama satu periode akibat adanya konstruksi. Besarnya tarif kapitalisasi ditentukan sebagai berikut :

a.    Apabila dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi tidak melebihi dana pinjaman, maka tarif yang digunakan adalah tingkat bunga pinjaman untuk konstruksi tersebut.

b.    Apabila dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi melebihi besarnya dana pinjaman untuk konstruksi tersebut, maka tarif kapitalisasi untuk kelebihan dana yang tertanam tersebut adalah rata-rata tertimbang dari tingkat bunga sumber dana lainnya.



C.  Pengeluaran Kapital Untuk Aktiva (Capital Expenditure)

  Capital Expenditure adalah pengorbanan sumber ekonomik yang berkaitan dengan objek jasa (fasilitas fisik) baik saat diperoleh maupun saat digunakan dalam operasi. Aturan umum yang digunakan untuk menentukan pengorbanan ekonomi sebagai pengeluaran capital:

1.         Untuk aktiva non moneter yang baru diperoleh/dibeli, suatu pengeluaran akan dikapitalisasi jika pengeluaran tersebut dimaksudkan untuk memperoleh aktiva sampai aktiva yang bersangkutan siap digunakan untuk operasi perusahaan.

2.         Untuk aktiva yang telah dipakai (aktiva lama), pengeluaran akan dikapitalisasi bila memenuhi syarat berikut:

a.         Menambah kapasitas produksi aktiva yang bersangkutan

b.        Menambah umur ekonomi

c.         Menambah nilai aktiva

 

D.  Aktiva Donasi / Sumbangan

Masalah khusus lainnya yang sering timbul adalah apabila perusahaan memperoleh suatu aktiva tanpa harus mengeluarkan /mengorbankan sumber ekonomi. Aktiva yang berasal dari sumbangan memiliki manfaat untuk menghasilkan pendapatan, maka aktiva tersebut harus ditentukan nilai wajarnya. Pengukuran semacam ini dimaksudkan untuk menentukan secara tepat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

 





E.   Trasaksi Aktiva Non Moneter

Masalah lain timbul apabila pengorbanan ekonomi untuk memperoleh suatu aktiva bukan berupa kas tetapi berbentuk aktiva non moneter.





1.        KARATERISTIK AKTIVA

     Karakteristik aktiva berkaitan dengan kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan apakah transaksi tertentu diakui sebagai elemen aktiva dalam laporan keuangan. Karakteristik tersebut berhubungan dengan definisi aktiva.

Karakteristik umum aktiva sebagai berikut :

1.    Adanya karakteristik manfaat dimasa mendatang

2.    Adanya pengorbanan ekonomi untuk memperoleh aktiva

3.    Berkaitan dengan entitas tertentu 

4.    Menunjukkan proses akuntansi

5.    Berkaitan dengan dimensi waktu

6.    Berkaitan dengan karakteristik keterukuran

 

     FASB mendefinisikan aktiva adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu.

     Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa definisi aktiva memiliki 3 karakteristik utama:  

1.    Memiliki Manfaat Ekonomi Dimasa Mendatang

Sesuatu dikatakan sebagai aktiva apabila memiliki manfaat atau potensi jasa yang cukup pasti dimasa mendatang.Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan baik secara individu maupun bersama-sama dengan aktiva lain untuk menghasilkan aliran kas masuk dimasa mendatang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

SFAC No 6 menyebutkan bahwa manfaat ekonomi merupakan esensi sebenarnya dari aktiva. Artinya aktiva harus memiliki kemampuan bagi suatu entitas untuk ditukar dengan sesuatu yang lain yang memiliki nilai, atau digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai atau digunakan untuk melunasi hutang.Jadi manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva merupakan potensi dari aktiva tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada perusahaan.

Manfaat ekonomi masa mendatang dapat juga berhubungan dengan sumber-sumber ekonomi. Ada dua karakteristik utama yang dapat digunakan untuk menunjukkan sumber-sumber ekonomi yaitu kelangkaan dan kemanfaatan. APB dalam statement No 4 memberikan contoh sumber ekonomi perusahaan sebagai berikut:

a.    Sumber-sumber ekonomi yang produktif

1.    Bahan baku, tanah, peralatan, paten, dan sumber-sumber lain yang digunakan dalam produksi.

2.    Hak kontrak untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi milik unit usaha lain seperti hak guna bangunan dsb.

b.    Produk yaitu barang yang siap untuk dijual/ barang yang masih dalam proses produksi.

c.    Uang

d.    Klaim untuk menerima uang

e.    Hak pemilikan pada perusahaan lain

 

2.    Dikuasai Oleh Suatu Unit Usaha

Sesuatu dapat dikatakan sebagai aktiva bila unit usaha tertentu dapat menggunakan manfaat aktiva tersebut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses pihak lain terhadap aktiva tersebut. Jadi penguasaan terhadap suatu manfaat merupakan faktor yang sangat penting agar suatuunit usaha dapat menghalangi akses pihak lain terhadap pemakaian aktiva. Penguasaan dan pengendalian terhadap suatu aktiva dapat diperoleh suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian, Penemuan, perjanjian, produksi, penjualan, dan pertukaran.

Perlu diperhatikan bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk mengakui suatu aktiva. Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang sah menurut hukum terhadap suatu barang. Hal ini disebabkan akuntansi tidak memusatkan pada masalah hukum. Akuntansi lebih memusatkan pada substansi ekonomi suatu transaksi yang mempengaruhi posisi keuangan/ hasil usaha suatu perusahaan. Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui aktiva karena ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik bukan faktor penentu dari aktiva  

3.    Hasil Dari Transaksi Masa Lalu

Suatu unit usaha dapat mengakui suatu aktiva apabila telah terjadi transaksi atau peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian terhadap manfaat dari aktiva tersebut. Meskipun definisi FASB tersebut dapat diterima secara umum, banyak kritik yang ditujukan. Hal ini disebabkan dalam definisinya, FASB mengabaikan faktor exchangeability.

Mac Neal mengatakan bahwa suatu barang kehilangan faktor exchangeability berarti kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekat padabarang tersebut. Meskipun demikian, FASB menolak ise tersebut karena pada dasarnya manfaat darisuatu aktiva tidak terbatas pada unsur dapat saling dipertukarkan.

 

2.         KONSEP PENILIAN

  Konsep penilaian berkaitan dengan masalah penentuan makna yang ingin disampaikan pada pemakai laporan terhadap aktiva yang bersangkutan. Konsep penilaian harus didasarkan pada nilai pertukaran atau konversi.



  

A.       TUJUAN

Adapun tujuan pengukuran atau penilaian aktiva adalah sebagai berikut :

a.    Sebagai salah satu langkah dalam penentuan laba.

b.    Sebagai salah satu langkah dalam proses penyajian posisi keuangan.

c.    Memenuhi kebutuhan informasi yang ingin dicapai dalam pelaporan keuangan.

d.    Memenuhi kebutuhan informasi khusus yang memerlukan penilaian untuk kepentingan manajemen.



B.       DASAR PENILAIAN

Penilaian aktiva berkaitan dengan penentuan nilai pertukaran dari aktiva tersebut. Hendriksen (1982) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran yang dapat digunakan yaitu nilai keluaran (output values) dan nilai masukan (input values).

1)      Nilai Keluaran

Nilai keluaran didasarkan padajumlah kas atau non kas yang diterima suatu unit usaha bila suatu aktiva atau potensi jasa akhirnya keluar dari unit tersebut karena suatu pertukaran. Apabila nilai tersebut tidak relevan, ada dasar lain yang dapat digunakan yaitu :

a.         Discounted future cash receipts or service potential

Adalah nilai sekarang kas masa yang akan diterima perusahaan seandainya aktiva tersebut dijual.

b.         Harga keluaran sekarang (Current output price)

Apabila produk perusahaan umumnya dijual di pasar yang terorganisis, harga pasar sekarang merupakan dasar yang rasional untuk menilai besarnya harga jual di masa mendatang.

c.         Nilai setara kas sekarang ( Current cash Equivalent ).

Nilai setara kas sekarang menunjukkan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat diperoleh dengan menjual setiap aktiva berdasarkan keadaan perusahaan normal.

d.         Nilai Likuidasi (Liquidation value).

Nilai likuidasi sama dengan harga jual sekarang atau nilai setara kas sekarang, dengan perbedaan bahwa nilai keluarannya diperoleh dari kondisi pasar yang berbeda.

2)      Nilai Masukan

Dalam menilai aktiva, nilai masukan sering dianggap lebih tepat daripada nilai keluaran karena nilai tersebut lebih dapat diuji kebenarannya atau nilai tersebut tidak memungkinkan dilakukannya pelaporanpendapatan sebelumpendapatan benar-benar terealisasi. Dasar yang dapat digunakan untuk nilai masukan adalah sebagai berikut:

a.       Cost histories

 merupakan harga pertukaran barang dan jasa pada saat terjadinya.

b.      Cost masukan terkini (Current input cost)

Menunjukkan harga pertukaran yang harus dikorbankan pada saat sekarang untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama.

c.       Discounted future cost

Menunjukkan nilai sekarang pengorbanan ekonomi di masa mendatang seandainya potensi jasa tertentu diperoleh sekaligus pada saat sekarang.

d.      Standart cost

Menunjukkan cost sekarang dalam kondisi perusahaan beroperasi pada tingkat efisiensi dan kapasitas produksi normal.

3.        PENGAKUAN AKTIVA

  Penentuan definisi aktiva merupakan langkah pertama dalam proses identifikasi suatu aktiva. Apabila jumlah rupiah tertentu akan mempengaruhi posisi keuangan/hasil usaha dan akan tampak dalam neraca.

FASB(1984) menyatakan pengakuan suatu pos didasarkan pada 4 kriteria, sebagai berikut  :

1.         Definisi

Suatu pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memenuhi definisi elemen laporan keuangan.

2.         Keterukuran

Suatu pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur jumlahnya dengan reliabilitas yang tinggi.

3.         Relevansi

Informasi yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan untuk membuat suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemakai laporan keuangan.

4.         Reliabilitas

Informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya dan netral.

     Dalam praktik ada beberapa pos yang memenuhi kriteria definisi tapi tidak dicatat dalam stuktur akuntansi.penerapan definisi dalam dunia nyata melibatkan sejumlah kondisi yang dinamakan aturan pengakuan(recognized rules). 

  Beberapa aturan secara informal diwujudkan dalam bentuk konvensi atau hal lain yang secara formal dirancang oleh badan yang berwenang. Contoh aturan menurut konvensi adalah piutang dagang dicatat bila penjualan kredit dilakukan dan peralatan dicatat saat pembelian. Contoh aturan yang didasarkan pada keputusan badan berwenang adalah capital lease.Dalam SFAS No.13 “accounting for lease” disebutkan bahwa kapitalisasi lease (sewa gung usaha) hanya dilakukan bila salah satu/lebih kriteria ini dipenuhi:

a.    Adanya transfer hak milik kepada pembeli (lessee)

b.    Kontrak menyebutkan adanya hak boleh pilih untuk membeli dengan syarat yang menguntungkan pembeli

c.    Jangka waktu leasing 75% atau lebih dari sisa taksiran umur ekonomi pada saat kontrak ditandatangani

d.    Nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan 90% dari nilai pasar yang wajar dari aktiva yang disewa terhitung sejak kontrak dimulai.

  Praktik menunjukkan banyak aturan yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Aturan pengakuan menunjukkan aturan khusus yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Sedang kriteria pengakuan merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan aturan pengakuan. Tujuan akuntansi adalah memberikan dasar bagi kriteria pengakuan, yaitu menyediakan informasi yang relevan dan reliable. Kam (1992) memberikan beberapa kriteria yaitu:

1)                  Didasarkan pada hukum

2)                  Pemakaian prisip koservatif

3)                  Makna /substansi ekonomi suatu transaksi

4)                  Kemampuan mengukur nilai aktiva



4.        MASALAH – MASALAH KHUSUS AKTIVA

A.  Beban Tangguhan

Beban tangguhan sering menjadi masalah dalam penentuan jenis aktiva. Masalah tersebut adalah; apakah beban tangguhan dapat digolongkan sebagai aktiva? Jenis beban tangguhan yang mana yang dapat digolongkan sebagai aktiva?

Beban tangguhan tidak hanya menyangkut cost dalam bentuk fisik tetapi termasuk juga cost jasa dalam bentuk lain selama memenuhi kriteria sebagai beban tangguhan. Kriteria umum yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan beban tangguhan adalah:

a)         Apakah cost jasa tersebut merupakan pengeluaran pengeluaran yang sah dan wajar?

b)        Apakah cost jasa tersebut merupakan suatu faktor yang manfaatnya dimasa mendatang dapat diantisipasi dengan mudah?

c)         Apakah cost tersebut merupakan jenis pengeluaran yang terjadi berulang-ulang setiap periode?

Ukuran manfaat tidak hanya didasarkan pada kemampuan untuk menambah volume produk tapi lebih ditekankan pada manfaat yang berhubungan dengan kegiatan operasi perusahaan dimasa mendatang secara keseluruhan. Dalam praktek, beberapa pos yang sebenarnya berbeda sifat sering dikelompokkan dalam neraca dengan satu judul yaitu “beban tangguhan”. Misalnya:biaya dibayar dimuka,cost pendirian perusahaan, cost penelitian dan pengembangan, dan diskonto surat berharga. Walaupun itu sebenarnya kurang tepat.

 

B.   Kapitalisasi Bunga  

Ada beberapa perlakuan akuntansi bunga :

1.    Bunga tidak dikapitalisasi

2.    Bunga dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai eleman cost fasilitas fisik yang dibangun sendiri

3.    Bunga dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen cost fasilitas fisik yang dibangun

Dalam kondisi tertentu mungkin saja tidak perlu dilakukan kapitalisasi apabila memang manfaatnya kecil. Bunga hanya dapat dikapitalisasi untuk aktiva yang memenuhi syarat tertentu.

Besarnya bunga yang dikapitalisasi secara teoritis adalah tambahan bunga yang diperkirakan terjadi selama satu periode akibat adanya konstruksi. Besarnya tarif kapitalisasi ditentukan sebagai berikut :

a.    Apabila dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi tidak melebihi dana pinjaman, maka tarif yang digunakan adalah tingkat bunga pinjaman untuk konstruksi tersebut.

b.    Apabila dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi melebihi besarnya dana pinjaman untuk konstruksi tersebut, maka tarif kapitalisasi untuk kelebihan dana yang tertanam tersebut adalah rata-rata tertimbang dari tingkat bunga sumber dana lainnya.



C.  Pengeluaran Kapital Untuk Aktiva (Capital Expenditure)

  Capital Expenditure adalah pengorbanan sumber ekonomik yang berkaitan dengan objek jasa (fasilitas fisik) baik saat diperoleh maupun saat digunakan dalam operasi. Aturan umum yang digunakan untuk menentukan pengorbanan ekonomi sebagai pengeluaran capital:

1.         Untuk aktiva non moneter yang baru diperoleh/dibeli, suatu pengeluaran akan dikapitalisasi jika pengeluaran tersebut dimaksudkan untuk memperoleh aktiva sampai aktiva yang bersangkutan siap digunakan untuk operasi perusahaan.

2.         Untuk aktiva yang telah dipakai (aktiva lama), pengeluaran akan dikapitalisasi bila memenuhi syarat berikut:

a.         Menambah kapasitas produksi aktiva yang bersangkutan

b.        Menambah umur ekonomi

c.         Menambah nilai aktiva

 

D.  Aktiva Donasi / Sumbangan

Masalah khusus lainnya yang sering timbul adalah apabila perusahaan memperoleh suatu aktiva tanpa harus mengeluarkan /mengorbankan sumber ekonomi. Aktiva yang berasal dari sumbangan memiliki manfaat untuk menghasilkan pendapatan, maka aktiva tersebut harus ditentukan nilai wajarnya. Pengukuran semacam ini dimaksudkan untuk menentukan secara tepat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
  
E.   Trasaksi Aktiva Non Moneter

Masalah lain timbul apabila pengorbanan ekonomi untuk memperoleh suatu aktiva bukan berupa kas tetapi berbentuk aktiva non moneter.


SAMPLING AUDIT

1.1              Definisi dan Tujuan Sampling Audit Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 35...