1.
KARATERISTIK
AKTIVA
Karakteristik
aktiva berkaitan dengan kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan apakah
transaksi tertentu diakui sebagai elemen aktiva dalam laporan keuangan.
Karakteristik tersebut berhubungan dengan definisi aktiva.
Karakteristik
umum aktiva sebagai berikut :
1. Adanya
karakteristik manfaat dimasa mendatang
2. Adanya
pengorbanan ekonomi untuk memperoleh aktiva
3. Berkaitan
dengan entitas tertentu
4. Menunjukkan
proses akuntansi
5. Berkaitan
dengan dimensi waktu
6. Berkaitan
dengan karakteristik keterukuran
FASB
mendefinisikan aktiva adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa
mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai
akibat transaksi atau peristiwa masa lalu.
Dari
definisi diatas dapat diketahui bahwa definisi aktiva memiliki 3 karakteristik
utama:
1. Memiliki
Manfaat Ekonomi Dimasa Mendatang
Sesuatu
dikatakan sebagai aktiva apabila memiliki manfaat atau potensi jasa yang cukup
pasti dimasa mendatang.Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan baik secara
individu maupun bersama-sama dengan aktiva lain untuk menghasilkan aliran kas
masuk dimasa mendatang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
SFAC
No 6 menyebutkan bahwa manfaat ekonomi merupakan esensi sebenarnya dari aktiva.
Artinya aktiva harus memiliki kemampuan bagi suatu entitas untuk ditukar dengan
sesuatu yang lain yang memiliki nilai, atau digunakan untuk menghasilkan
sesuatu yang bernilai atau digunakan untuk melunasi hutang.Jadi manfaat ekonomi
masa mendatang yang melekat pada aktiva merupakan potensi dari aktiva tersebut
untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan
setara kas kepada perusahaan.
Manfaat
ekonomi masa mendatang dapat juga berhubungan dengan sumber-sumber ekonomi. Ada
dua karakteristik utama yang dapat digunakan untuk menunjukkan sumber-sumber
ekonomi yaitu kelangkaan dan kemanfaatan. APB dalam statement No 4 memberikan
contoh sumber ekonomi perusahaan sebagai berikut:
a. Sumber-sumber
ekonomi yang produktif
1. Bahan
baku, tanah, peralatan, paten, dan sumber-sumber lain yang digunakan dalam
produksi.
2. Hak
kontrak untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi milik unit usaha lain seperti
hak guna bangunan dsb.
b. Produk
yaitu barang yang siap untuk dijual/ barang yang masih dalam proses produksi.
c. Uang
d. Klaim
untuk menerima uang
e. Hak
pemilikan pada perusahaan lain
2. Dikuasai
Oleh Suatu Unit Usaha
Sesuatu
dapat dikatakan sebagai aktiva bila unit usaha tertentu dapat menggunakan
manfaat aktiva tersebut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses
pihak lain terhadap aktiva tersebut. Jadi penguasaan terhadap suatu manfaat
merupakan faktor yang sangat penting agar suatuunit usaha dapat menghalangi
akses pihak lain terhadap pemakaian aktiva. Penguasaan dan pengendalian terhadap
suatu aktiva dapat diperoleh suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian,
Penemuan, perjanjian, produksi, penjualan, dan pertukaran.
Perlu
diperhatikan bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk mengakui
suatu aktiva. Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang sah
menurut hukum terhadap suatu barang. Hal ini disebabkan akuntansi tidak
memusatkan pada masalah hukum. Akuntansi lebih memusatkan pada substansi
ekonomi suatu transaksi yang mempengaruhi posisi keuangan/ hasil usaha suatu
perusahaan. Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui
aktiva karena ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik bukan
faktor penentu dari aktiva
3. Hasil
Dari Transaksi Masa Lalu
Suatu
unit usaha dapat mengakui suatu aktiva apabila telah terjadi transaksi atau
peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian
terhadap manfaat dari aktiva tersebut. Meskipun definisi FASB tersebut dapat
diterima secara umum, banyak kritik yang ditujukan. Hal ini disebabkan dalam
definisinya, FASB mengabaikan faktor exchangeability.
Mac
Neal mengatakan bahwa suatu barang kehilangan faktor exchangeability berarti
kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan
untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekat padabarang
tersebut. Meskipun demikian, FASB menolak ise tersebut karena pada dasarnya
manfaat darisuatu aktiva tidak terbatas pada unsur dapat saling dipertukarkan.
2.
KONSEP
PENILIAN
Konsep penilaian berkaitan dengan masalah
penentuan makna yang ingin disampaikan pada pemakai laporan terhadap aktiva
yang bersangkutan. Konsep penilaian harus didasarkan pada nilai pertukaran atau
konversi.
A. TUJUAN
Adapun
tujuan pengukuran atau penilaian aktiva adalah sebagai berikut :
a. Sebagai
salah satu langkah dalam penentuan laba.
b.
Sebagai salah satu langkah dalam proses
penyajian posisi keuangan.
c.
Memenuhi kebutuhan informasi yang ingin
dicapai dalam pelaporan keuangan.
d.
Memenuhi kebutuhan informasi khusus yang
memerlukan penilaian untuk kepentingan manajemen.
B. DASAR
PENILAIAN
Penilaian
aktiva berkaitan dengan penentuan nilai pertukaran dari aktiva tersebut.
Hendriksen (1982) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran yang dapat
digunakan yaitu nilai keluaran (output values) dan nilai masukan (input
values).
1) Nilai Keluaran
Nilai
keluaran didasarkan padajumlah kas atau non kas yang diterima suatu unit usaha
bila suatu aktiva atau potensi jasa akhirnya keluar dari unit tersebut karena
suatu pertukaran. Apabila nilai tersebut tidak relevan, ada dasar lain yang
dapat digunakan yaitu :
a.
Discounted future cash receipts or service
potential
Adalah
nilai sekarang kas masa yang akan diterima perusahaan seandainya aktiva
tersebut dijual.
b.
Harga keluaran sekarang (Current output
price)
Apabila
produk perusahaan umumnya dijual di pasar yang terorganisis, harga pasar
sekarang merupakan dasar yang rasional untuk menilai besarnya harga jual di
masa mendatang.
c.
Nilai setara kas sekarang ( Current cash
Equivalent ).
Nilai
setara kas sekarang menunjukkan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat
diperoleh dengan menjual setiap aktiva berdasarkan keadaan perusahaan normal.
d.
Nilai Likuidasi (Liquidation value).
Nilai
likuidasi sama dengan harga jual sekarang atau nilai setara kas sekarang,
dengan perbedaan bahwa nilai keluarannya diperoleh dari kondisi pasar yang
berbeda.
2) Nilai Masukan
Dalam
menilai aktiva, nilai masukan sering dianggap lebih tepat daripada nilai
keluaran karena nilai tersebut lebih dapat diuji kebenarannya atau nilai
tersebut tidak memungkinkan dilakukannya pelaporanpendapatan sebelumpendapatan
benar-benar terealisasi. Dasar yang dapat digunakan untuk nilai masukan adalah
sebagai berikut:
a. Cost
histories
merupakan harga pertukaran barang dan jasa
pada saat terjadinya.
b. Cost
masukan terkini (Current input cost)
Menunjukkan harga pertukaran yang harus dikorbankan
pada saat sekarang untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang
sama.
c. Discounted
future cost
Menunjukkan nilai sekarang pengorbanan ekonomi di masa
mendatang seandainya potensi jasa tertentu diperoleh sekaligus pada saat
sekarang.
d. Standart
cost
Menunjukkan cost sekarang dalam kondisi perusahaan
beroperasi pada tingkat efisiensi dan kapasitas produksi normal.
3.
PENGAKUAN
AKTIVA
Penentuan definisi aktiva merupakan langkah
pertama dalam proses identifikasi suatu aktiva. Apabila jumlah rupiah tertentu
akan mempengaruhi posisi keuangan/hasil usaha dan akan tampak dalam neraca.
FASB(1984)
menyatakan pengakuan suatu pos didasarkan pada 4 kriteria, sebagai berikut :
1.
Definisi
Suatu
pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memenuhi definisi elemen
laporan keuangan.
2.
Keterukuran
Suatu
pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur jumlahnya
dengan reliabilitas yang tinggi.
3.
Relevansi
Informasi
yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan untuk membuat
suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemakai laporan keuangan.
4.
Reliabilitas
Informasi
yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau
direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya dan netral.
Dalam praktik ada beberapa pos yang memenuhi
kriteria definisi tapi tidak dicatat dalam stuktur akuntansi.penerapan definisi
dalam dunia nyata melibatkan sejumlah kondisi yang dinamakan aturan pengakuan(recognized rules).
Beberapa aturan secara informal diwujudkan
dalam bentuk konvensi atau hal lain yang secara formal dirancang oleh badan
yang berwenang. Contoh aturan menurut konvensi adalah piutang dagang dicatat bila
penjualan kredit dilakukan dan peralatan dicatat saat pembelian. Contoh aturan
yang didasarkan pada keputusan badan berwenang adalah capital lease.Dalam SFAS No.13 “accounting
for lease” disebutkan bahwa kapitalisasi lease (sewa gung usaha) hanya
dilakukan bila salah satu/lebih kriteria ini dipenuhi:
a. Adanya
transfer hak milik kepada pembeli (lessee)
b. Kontrak
menyebutkan adanya hak boleh pilih untuk membeli dengan syarat yang
menguntungkan pembeli
c. Jangka
waktu leasing 75% atau lebih dari sisa taksiran umur ekonomi pada saat kontrak
ditandatangani
d. Nilai
sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan 90% dari nilai pasar yang
wajar dari aktiva yang disewa terhitung sejak kontrak dimulai.
Praktik menunjukkan banyak aturan yang
digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Aturan pengakuan menunjukkan
aturan khusus yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Sedang
kriteria pengakuan merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan
aturan pengakuan. Tujuan akuntansi adalah memberikan dasar bagi kriteria
pengakuan, yaitu menyediakan informasi yang relevan dan reliable. Kam (1992)
memberikan beberapa kriteria yaitu:
1)
Didasarkan pada hukum
2)
Pemakaian prisip koservatif
3)
Makna /substansi ekonomi suatu transaksi
4)
Kemampuan mengukur nilai aktiva
4.
MASALAH
– MASALAH KHUSUS AKTIVA
A. Beban Tangguhan
Beban
tangguhan sering menjadi masalah dalam penentuan jenis aktiva. Masalah tersebut
adalah; apakah beban tangguhan dapat digolongkan sebagai aktiva? Jenis beban
tangguhan yang mana yang dapat digolongkan sebagai aktiva?
Beban
tangguhan tidak hanya menyangkut cost dalam bentuk fisik tetapi termasuk juga
cost jasa dalam bentuk lain selama memenuhi kriteria sebagai beban tangguhan.
Kriteria umum yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan beban tangguhan
adalah:
a)
Apakah cost jasa tersebut merupakan
pengeluaran pengeluaran yang sah dan wajar?
b)
Apakah cost jasa tersebut merupakan suatu
faktor yang manfaatnya dimasa mendatang dapat diantisipasi dengan mudah?
c)
Apakah cost tersebut merupakan jenis pengeluaran
yang terjadi berulang-ulang setiap periode?
Ukuran
manfaat tidak hanya didasarkan pada kemampuan untuk menambah volume produk tapi
lebih ditekankan pada manfaat yang berhubungan dengan kegiatan operasi
perusahaan dimasa mendatang secara keseluruhan. Dalam praktek, beberapa pos
yang sebenarnya berbeda sifat sering dikelompokkan dalam neraca dengan satu
judul yaitu “beban tangguhan”. Misalnya:biaya dibayar dimuka,cost pendirian
perusahaan, cost penelitian dan pengembangan, dan diskonto surat berharga.
Walaupun itu sebenarnya kurang tepat.
B. Kapitalisasi Bunga
Ada beberapa perlakuan akuntansi bunga :
1. Bunga
tidak dikapitalisasi
2. Bunga
dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai eleman cost fasilitas fisik yang dibangun
sendiri
3. Bunga
dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen cost fasilitas fisik yang
dibangun
Dalam
kondisi tertentu mungkin saja tidak perlu dilakukan kapitalisasi apabila memang
manfaatnya kecil. Bunga hanya dapat dikapitalisasi untuk aktiva yang memenuhi
syarat tertentu.
Besarnya
bunga yang dikapitalisasi secara teoritis adalah tambahan bunga yang
diperkirakan terjadi selama satu periode akibat adanya konstruksi. Besarnya
tarif kapitalisasi ditentukan sebagai berikut :
a. Apabila
dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi tidak melebihi dana pinjaman,
maka tarif yang digunakan adalah tingkat bunga pinjaman untuk konstruksi
tersebut.
b. Apabila
dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi melebihi besarnya dana pinjaman
untuk konstruksi tersebut, maka tarif kapitalisasi untuk kelebihan dana yang
tertanam tersebut adalah rata-rata tertimbang dari tingkat bunga sumber dana
lainnya.
C.
Pengeluaran
Kapital Untuk Aktiva (Capital Expenditure)
Capital
Expenditure adalah pengorbanan sumber ekonomik yang berkaitan dengan objek jasa
(fasilitas fisik) baik saat diperoleh maupun saat digunakan dalam operasi.
Aturan umum yang digunakan untuk menentukan pengorbanan ekonomi sebagai
pengeluaran capital:
1.
Untuk aktiva non moneter yang baru
diperoleh/dibeli, suatu pengeluaran akan dikapitalisasi jika pengeluaran
tersebut dimaksudkan untuk memperoleh aktiva sampai aktiva yang bersangkutan
siap digunakan untuk operasi perusahaan.
2.
Untuk aktiva yang telah dipakai (aktiva
lama), pengeluaran akan dikapitalisasi bila memenuhi syarat berikut:
a.
Menambah kapasitas produksi aktiva yang
bersangkutan
b.
Menambah umur ekonomi
c.
Menambah nilai aktiva
D. Aktiva Donasi / Sumbangan
Masalah
khusus lainnya yang sering timbul adalah apabila perusahaan memperoleh suatu
aktiva tanpa harus mengeluarkan /mengorbankan sumber ekonomi. Aktiva yang
berasal dari sumbangan memiliki manfaat untuk menghasilkan pendapatan, maka
aktiva tersebut harus ditentukan nilai wajarnya. Pengukuran semacam ini
dimaksudkan untuk menentukan secara tepat kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba.
E. Trasaksi Aktiva Non Moneter
Masalah
lain timbul apabila pengorbanan ekonomi untuk memperoleh suatu aktiva bukan
berupa kas tetapi berbentuk aktiva non moneter.
1.
KARATERISTIK
AKTIVA
Karakteristik
aktiva berkaitan dengan kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan apakah
transaksi tertentu diakui sebagai elemen aktiva dalam laporan keuangan.
Karakteristik tersebut berhubungan dengan definisi aktiva.
Karakteristik
umum aktiva sebagai berikut :
1. Adanya
karakteristik manfaat dimasa mendatang
2. Adanya
pengorbanan ekonomi untuk memperoleh aktiva
3. Berkaitan
dengan entitas tertentu
4. Menunjukkan
proses akuntansi
5. Berkaitan
dengan dimensi waktu
6. Berkaitan
dengan karakteristik keterukuran
FASB
mendefinisikan aktiva adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa
mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai
akibat transaksi atau peristiwa masa lalu.
Dari
definisi diatas dapat diketahui bahwa definisi aktiva memiliki 3 karakteristik
utama:
1. Memiliki
Manfaat Ekonomi Dimasa Mendatang
Sesuatu
dikatakan sebagai aktiva apabila memiliki manfaat atau potensi jasa yang cukup
pasti dimasa mendatang.Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan baik secara
individu maupun bersama-sama dengan aktiva lain untuk menghasilkan aliran kas
masuk dimasa mendatang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
SFAC
No 6 menyebutkan bahwa manfaat ekonomi merupakan esensi sebenarnya dari aktiva.
Artinya aktiva harus memiliki kemampuan bagi suatu entitas untuk ditukar dengan
sesuatu yang lain yang memiliki nilai, atau digunakan untuk menghasilkan
sesuatu yang bernilai atau digunakan untuk melunasi hutang.Jadi manfaat ekonomi
masa mendatang yang melekat pada aktiva merupakan potensi dari aktiva tersebut
untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan
setara kas kepada perusahaan.
Manfaat
ekonomi masa mendatang dapat juga berhubungan dengan sumber-sumber ekonomi. Ada
dua karakteristik utama yang dapat digunakan untuk menunjukkan sumber-sumber
ekonomi yaitu kelangkaan dan kemanfaatan. APB dalam statement No 4 memberikan
contoh sumber ekonomi perusahaan sebagai berikut:
a. Sumber-sumber
ekonomi yang produktif
1. Bahan
baku, tanah, peralatan, paten, dan sumber-sumber lain yang digunakan dalam
produksi.
2. Hak
kontrak untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi milik unit usaha lain seperti
hak guna bangunan dsb.
b. Produk
yaitu barang yang siap untuk dijual/ barang yang masih dalam proses produksi.
c. Uang
d. Klaim
untuk menerima uang
e. Hak
pemilikan pada perusahaan lain
2. Dikuasai
Oleh Suatu Unit Usaha
Sesuatu
dapat dikatakan sebagai aktiva bila unit usaha tertentu dapat menggunakan
manfaat aktiva tersebut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses
pihak lain terhadap aktiva tersebut. Jadi penguasaan terhadap suatu manfaat
merupakan faktor yang sangat penting agar suatuunit usaha dapat menghalangi
akses pihak lain terhadap pemakaian aktiva. Penguasaan dan pengendalian terhadap
suatu aktiva dapat diperoleh suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian,
Penemuan, perjanjian, produksi, penjualan, dan pertukaran.
Perlu
diperhatikan bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk mengakui
suatu aktiva. Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang sah
menurut hukum terhadap suatu barang. Hal ini disebabkan akuntansi tidak
memusatkan pada masalah hukum. Akuntansi lebih memusatkan pada substansi
ekonomi suatu transaksi yang mempengaruhi posisi keuangan/ hasil usaha suatu
perusahaan. Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui
aktiva karena ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik bukan
faktor penentu dari aktiva
3. Hasil
Dari Transaksi Masa Lalu
Suatu
unit usaha dapat mengakui suatu aktiva apabila telah terjadi transaksi atau
peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian
terhadap manfaat dari aktiva tersebut. Meskipun definisi FASB tersebut dapat
diterima secara umum, banyak kritik yang ditujukan. Hal ini disebabkan dalam
definisinya, FASB mengabaikan faktor exchangeability.
Mac
Neal mengatakan bahwa suatu barang kehilangan faktor exchangeability berarti
kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan
untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekat padabarang
tersebut. Meskipun demikian, FASB menolak ise tersebut karena pada dasarnya
manfaat darisuatu aktiva tidak terbatas pada unsur dapat saling dipertukarkan.
2.
KONSEP
PENILIAN
Konsep penilaian berkaitan dengan masalah
penentuan makna yang ingin disampaikan pada pemakai laporan terhadap aktiva
yang bersangkutan. Konsep penilaian harus didasarkan pada nilai pertukaran atau
konversi.
A. TUJUAN
Adapun
tujuan pengukuran atau penilaian aktiva adalah sebagai berikut :
a. Sebagai
salah satu langkah dalam penentuan laba.
b.
Sebagai salah satu langkah dalam proses
penyajian posisi keuangan.
c.
Memenuhi kebutuhan informasi yang ingin
dicapai dalam pelaporan keuangan.
d.
Memenuhi kebutuhan informasi khusus yang
memerlukan penilaian untuk kepentingan manajemen.
B. DASAR
PENILAIAN
Penilaian
aktiva berkaitan dengan penentuan nilai pertukaran dari aktiva tersebut.
Hendriksen (1982) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran yang dapat
digunakan yaitu nilai keluaran (output values) dan nilai masukan (input
values).
1) Nilai Keluaran
Nilai
keluaran didasarkan padajumlah kas atau non kas yang diterima suatu unit usaha
bila suatu aktiva atau potensi jasa akhirnya keluar dari unit tersebut karena
suatu pertukaran. Apabila nilai tersebut tidak relevan, ada dasar lain yang
dapat digunakan yaitu :
a.
Discounted future cash receipts or service
potential
Adalah
nilai sekarang kas masa yang akan diterima perusahaan seandainya aktiva
tersebut dijual.
b.
Harga keluaran sekarang (Current output
price)
Apabila
produk perusahaan umumnya dijual di pasar yang terorganisis, harga pasar
sekarang merupakan dasar yang rasional untuk menilai besarnya harga jual di
masa mendatang.
c.
Nilai setara kas sekarang ( Current cash
Equivalent ).
Nilai
setara kas sekarang menunjukkan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat
diperoleh dengan menjual setiap aktiva berdasarkan keadaan perusahaan normal.
d.
Nilai Likuidasi (Liquidation value).
Nilai
likuidasi sama dengan harga jual sekarang atau nilai setara kas sekarang,
dengan perbedaan bahwa nilai keluarannya diperoleh dari kondisi pasar yang
berbeda.
2) Nilai Masukan
Dalam
menilai aktiva, nilai masukan sering dianggap lebih tepat daripada nilai
keluaran karena nilai tersebut lebih dapat diuji kebenarannya atau nilai
tersebut tidak memungkinkan dilakukannya pelaporanpendapatan sebelumpendapatan
benar-benar terealisasi. Dasar yang dapat digunakan untuk nilai masukan adalah
sebagai berikut:
a. Cost
histories
merupakan harga pertukaran barang dan jasa
pada saat terjadinya.
b. Cost
masukan terkini (Current input cost)
Menunjukkan harga pertukaran yang harus dikorbankan
pada saat sekarang untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang
sama.
c. Discounted
future cost
Menunjukkan nilai sekarang pengorbanan ekonomi di masa
mendatang seandainya potensi jasa tertentu diperoleh sekaligus pada saat
sekarang.
d. Standart
cost
Menunjukkan cost sekarang dalam kondisi perusahaan
beroperasi pada tingkat efisiensi dan kapasitas produksi normal.
3.
PENGAKUAN
AKTIVA
Penentuan definisi aktiva merupakan langkah
pertama dalam proses identifikasi suatu aktiva. Apabila jumlah rupiah tertentu
akan mempengaruhi posisi keuangan/hasil usaha dan akan tampak dalam neraca.
FASB(1984)
menyatakan pengakuan suatu pos didasarkan pada 4 kriteria, sebagai berikut :
1.
Definisi
Suatu
pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memenuhi definisi elemen
laporan keuangan.
2.
Keterukuran
Suatu
pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur jumlahnya
dengan reliabilitas yang tinggi.
3.
Relevansi
Informasi
yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan untuk membuat
suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemakai laporan keuangan.
4.
Reliabilitas
Informasi
yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau
direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya dan netral.
Dalam praktik ada beberapa pos yang memenuhi
kriteria definisi tapi tidak dicatat dalam stuktur akuntansi.penerapan definisi
dalam dunia nyata melibatkan sejumlah kondisi yang dinamakan aturan pengakuan(recognized rules).
Beberapa aturan secara informal diwujudkan
dalam bentuk konvensi atau hal lain yang secara formal dirancang oleh badan
yang berwenang. Contoh aturan menurut konvensi adalah piutang dagang dicatat bila
penjualan kredit dilakukan dan peralatan dicatat saat pembelian. Contoh aturan
yang didasarkan pada keputusan badan berwenang adalah capital lease.Dalam SFAS No.13 “accounting
for lease” disebutkan bahwa kapitalisasi lease (sewa gung usaha) hanya
dilakukan bila salah satu/lebih kriteria ini dipenuhi:
a. Adanya
transfer hak milik kepada pembeli (lessee)
b. Kontrak
menyebutkan adanya hak boleh pilih untuk membeli dengan syarat yang
menguntungkan pembeli
c. Jangka
waktu leasing 75% atau lebih dari sisa taksiran umur ekonomi pada saat kontrak
ditandatangani
d. Nilai
sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan 90% dari nilai pasar yang
wajar dari aktiva yang disewa terhitung sejak kontrak dimulai.
Praktik menunjukkan banyak aturan yang
digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Aturan pengakuan menunjukkan
aturan khusus yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu. Sedang
kriteria pengakuan merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan
aturan pengakuan. Tujuan akuntansi adalah memberikan dasar bagi kriteria
pengakuan, yaitu menyediakan informasi yang relevan dan reliable. Kam (1992)
memberikan beberapa kriteria yaitu:
1)
Didasarkan pada hukum
2)
Pemakaian prisip koservatif
3)
Makna /substansi ekonomi suatu transaksi
4)
Kemampuan mengukur nilai aktiva
4.
MASALAH
– MASALAH KHUSUS AKTIVA
A. Beban Tangguhan
Beban
tangguhan sering menjadi masalah dalam penentuan jenis aktiva. Masalah tersebut
adalah; apakah beban tangguhan dapat digolongkan sebagai aktiva? Jenis beban
tangguhan yang mana yang dapat digolongkan sebagai aktiva?
Beban
tangguhan tidak hanya menyangkut cost dalam bentuk fisik tetapi termasuk juga
cost jasa dalam bentuk lain selama memenuhi kriteria sebagai beban tangguhan.
Kriteria umum yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan beban tangguhan
adalah:
a)
Apakah cost jasa tersebut merupakan
pengeluaran pengeluaran yang sah dan wajar?
b)
Apakah cost jasa tersebut merupakan suatu
faktor yang manfaatnya dimasa mendatang dapat diantisipasi dengan mudah?
c)
Apakah cost tersebut merupakan jenis pengeluaran
yang terjadi berulang-ulang setiap periode?
Ukuran
manfaat tidak hanya didasarkan pada kemampuan untuk menambah volume produk tapi
lebih ditekankan pada manfaat yang berhubungan dengan kegiatan operasi
perusahaan dimasa mendatang secara keseluruhan. Dalam praktek, beberapa pos
yang sebenarnya berbeda sifat sering dikelompokkan dalam neraca dengan satu
judul yaitu “beban tangguhan”. Misalnya:biaya dibayar dimuka,cost pendirian
perusahaan, cost penelitian dan pengembangan, dan diskonto surat berharga.
Walaupun itu sebenarnya kurang tepat.
B. Kapitalisasi Bunga
Ada beberapa perlakuan akuntansi bunga :
1. Bunga
tidak dikapitalisasi
2. Bunga
dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai eleman cost fasilitas fisik yang dibangun
sendiri
3. Bunga
dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen cost fasilitas fisik yang
dibangun
Dalam
kondisi tertentu mungkin saja tidak perlu dilakukan kapitalisasi apabila memang
manfaatnya kecil. Bunga hanya dapat dikapitalisasi untuk aktiva yang memenuhi
syarat tertentu.
Besarnya
bunga yang dikapitalisasi secara teoritis adalah tambahan bunga yang
diperkirakan terjadi selama satu periode akibat adanya konstruksi. Besarnya
tarif kapitalisasi ditentukan sebagai berikut :
a. Apabila
dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi tidak melebihi dana pinjaman,
maka tarif yang digunakan adalah tingkat bunga pinjaman untuk konstruksi
tersebut.
b. Apabila
dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi melebihi besarnya dana pinjaman
untuk konstruksi tersebut, maka tarif kapitalisasi untuk kelebihan dana yang
tertanam tersebut adalah rata-rata tertimbang dari tingkat bunga sumber dana
lainnya.
C.
Pengeluaran
Kapital Untuk Aktiva (Capital Expenditure)
Capital
Expenditure adalah pengorbanan sumber ekonomik yang berkaitan dengan objek jasa
(fasilitas fisik) baik saat diperoleh maupun saat digunakan dalam operasi.
Aturan umum yang digunakan untuk menentukan pengorbanan ekonomi sebagai
pengeluaran capital:
1.
Untuk aktiva non moneter yang baru
diperoleh/dibeli, suatu pengeluaran akan dikapitalisasi jika pengeluaran
tersebut dimaksudkan untuk memperoleh aktiva sampai aktiva yang bersangkutan
siap digunakan untuk operasi perusahaan.
2.
Untuk aktiva yang telah dipakai (aktiva
lama), pengeluaran akan dikapitalisasi bila memenuhi syarat berikut:
a.
Menambah kapasitas produksi aktiva yang
bersangkutan
b.
Menambah umur ekonomi
c.
Menambah nilai aktiva
D. Aktiva Donasi / Sumbangan
Masalah
khusus lainnya yang sering timbul adalah apabila perusahaan memperoleh suatu
aktiva tanpa harus mengeluarkan /mengorbankan sumber ekonomi. Aktiva yang
berasal dari sumbangan memiliki manfaat untuk menghasilkan pendapatan, maka
aktiva tersebut harus ditentukan nilai wajarnya. Pengukuran semacam ini
dimaksudkan untuk menentukan secara tepat kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba.
E. Trasaksi Aktiva Non Moneter
Masalah
lain timbul apabila pengorbanan ekonomi untuk memperoleh suatu aktiva bukan
berupa kas tetapi berbentuk aktiva non moneter.