PEMBAHASAN
1.1
Sifat Siklus Produksi – Persediaan
Siklus ini secara garis besar mencakup berbagai fungsi
dan kegiatan perusahaan yang berkaitan
dengan konversi bahan baku ke barang jadi. Fungsi dan kegiatan tersebut antara
lain:
1.
Perencanaan
produksi,
2.
Pengendalian
jenis dan jumlah produksi,
3.
Pengendalian
tingkat persediaan,
4.
Berbagai
transaksi maupun kejadian yang berhubungan dengan proses produksi seperti
pembebanan biaya ke harga pokok produksi
1.2
Persediaan
Persediaan sangat kompleks dan merupakan bagian yang menyita
banyak waktu auditor. Alasan yang mendukung hal ini antara lain:
1.
Pada
sebagian perusahaan, Persediaan merupakan item utama dalam neraca.
2.
Persediaan
pada umumnya juga merupakan item utama yang mempengaruhi rekening-rekening yang
mempengaruhi laba- rugi.
3.
Berbagai
jenis persediaan yang ada mengakibatkan auditor sering asing dengan persediaan
tersebut, misalnya permata, emas, dan bahan kimia. Hal ini menimbulkan problem
observasi dan penilaian perusahaan.
4.
Persediaan
kadang terletak pada berbagai tempat atau lokasi yang berjauhan. Hal ini
menimbulkan problem pengendalian fisik dan perhitungan.
Rekening-rekening yang terkait dengan siklus produksi dan
persediaan, antara lain sebagai berikut:
a.
Persediaan
bahan baku
b.
Persediaan
bahan pembantu
c.
Persediaan
barang dalam proses
d.
Persediaan
barang jadi
e.
Biaya
tenaga kerja langsung
f.
Biaya
overhead pabrik
g.
Biaya
reparasi dan perbaikan
h.
Biaya
bahan bakar atau listrik
i.
Harga
pokok produksi
j.
Harga
pokok penjualan
k.
Utang
dagang
l.
Biaya
dibayar dimuka
m.
Biaya
depresiasi mesin dan peralatan pabrik
n.
Biaya
deplesi persediaan
o.
Akumulasi
depresiasi mesin dan peralatan pabrik
p.
Akumulasi
deplesi persediaan
1.3
Tujuan Audit Siklus Produksi – Persediaan
Tujuan audit siklus produksi adalah untuk memperoleh
bukti mengenai masing-masing asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi
dan saldo siklus produksi.Tujuan ditentukan berdasar lima kategori asersi
yaitu:
1.
Asersi
Keberadaan atau Keterjadian
Dalam
asersi ini, auditor menekankan pada apakah harga pokok produksi yang tercatat
menggambarkan berbagai biya produksi yang benar-benar terjadi selama periode
bersangkutan.
2.
Asersi
Kelengkapan
Assersi
ini menekankan pada pakah seluruh biaya produksi yang terjadi dalam suatu
periode telah dicatat dan disajikan dalam laporan laba-rugi sebagai harga pokok
produksi
3.
Asersi
Hak dan Kewajiban
Dalam asersi ini, auditor berusaha memastikan
apakah perusahaan mempunyai hak kepemilikan yang sah atas persediaan baik yang
ada dalam perusahaan maupun yang ada dipihak ketiga.
4.
Asersi
Penilaian dan Pengalokasian
Dalam asersi ini, auditor akan berusaha memperoleh
bukti apakah saldo harga pokok produksi, berbagai biaya produksi, dan
persediaan telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat.
5.
Asersi
Pelaporan dan Pengungkapan
Adapun
mengenai rincian tujuan audit asersi pelaporan dan pengungkapan adalah sebagai
berikut:
a. Persediaan digolongkan sebagaimana mestinya dalam
neraca sebagai aktiva lancar.
b. Berbagai biaya produksi telah tepat dikelompokkan ke
dalam laporan keuangan.
c. Adanya pengungkapan dasar atau metode penilaian
persediaan yang memadai dan konsisten.
d. Persediaan yang digadaikan atau diungkapkan ke perusahaan
lain telah diungkapkan secara memadai.
1.4
Materialitas
Transaksi-transaksi dalam siklus
produksi dan persediaan ini sering sekali sangat material bagi perusahaan
manufaktur. Banyak rekening individual yang berkaitan dengan siklus produksi
yang material seperti biaya tenaga kerja langsung, bahan bakar, atau listrik
pabrikasi, reparasi dan perbaikan, perlengkapan kerja, dan biaya overhead
pebrik lain.
1.5
Resiko Bawaan – Persediaan
Secara
spesifik faktor-faktor yang membuat tingginya resiko bawaan siklus
produksi-persediaan yaitu:
1.
Folume
pembelian, produksi dan transaksi penjualan sangat tinggi sehingga meningkatkan
kemungkinan kesalahan.
2.
Selalu
muncul permasalahan berkaitan dengan identifikasi dan pengukuran biaya-biaya
persediaan seperti bahan pembantu, tenaga kerja, overhead pabrik, biaya
bersama, disposisi variance biaya, akuntansi untuk barang rusak, dan isu-isu
akuntansi biaya.
3.
Berbagai
jenis persediaan sering menuntut penggunaan prosedur khusus untuk menentukan
kuantitas perssediaan.
4.
Lokasi
penempatan persediaan belum tentu di satu tempat. Perbedaan lokasi ini
memperumit pengendalian fisik persediaan terhadap pencurian, kerusakan, dan
perlakuan barang yang ada dalam transit antara dua lokasi.
5.
Diversitas
persediaan membuat masalah untuk penetuan kualitas dan harga pasarnya.
6.
Persediaan
terpengaruh juga oleh kondisi perekonomian umum terutama berkaitan dengan tren
yang mempengaruhi laku tidaknya barang sehingga memerlukan pertimbangan khusus
dalam penentuan harga.
1.6
Strategi Audit – Persediaan
Tingginya risiko bawaan siklus produksi–persediaan
menyebabkan banyak perusahaan memprioritaskan atau memperluas struktur
pengendalian intern siklus produksi dan persediaan untuk mencegah dan
mendeteksi salah saji.
1.7
Pertimbangan Struktur Pengendalian Intern
Risiko
dapat timbul atau berubah karena keadaan yang berhubungan dengan siklus
produksi.
1.
Informasi
dan Komunikasi (Sistem Akuntansi)
2.
Pemantauan
3.
Aktivitas
Pengendalian
4.
Pemisahan
Tugas.
5.
Perencanaan
dan Pengendalian Produksi
6.
Pengeluaran
Bahan Baku (Material)
7.
Pengolahan
Barang dalam Produksi
8.
Perlindungan
Persediaan Pemanufakturan
9.
Penetuan
dan Pencatatan Biaya atau Harga Pokok Pemanufakturan (Produksi)
10.
Penjagaan
Ketepatan Saldo Persediaan
1.8
Penghipunan dan Pendokumentasian Intern
Penghimpunan
pemahaman dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan atau wawancara,
observasi,menelaah dokumen, atau menelaah kembali pengalaman auditor pada audit
periode sebelumnya dengan klien tersebut. Dokumentasi pemahaman dapat dilakukan
dengan kuesioner, flowchart, atau memo naratif (uraian tertulis).
1)
Review Pendahuluan
2)
Dokumentasi Sistem
3)
Menganalisa Alur Transaksi
1.9
Penetapan Resiko Pengendalian
Penetapan risiko pengendalian merupakan proses
pengevaluasian efektivitas kebijakan dan prosedur pengendalian intern dalam
mencegah dan mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan. Langkag ini
dilakukan dengan menelaah pengalaman dengan klien pada tahun-tahun sebelumnya,
dan jika perlu dilakukan penelitian terhadap manajemen dan personel produksi,
menginspeksi dokumen produksi, dan pengobservasi aktivitas produksi.
1.10
Pengujian Pengendalian Persediaan
Prosedur
Pengujian pengendalian yang dapat diterapkan untuk siklus persediaan dibedakan
atas:
1.
Pengujian
pengendalian catatan perpetual
2.
Pengujian
pengendalian pembebanan biaya ke barang dalam proses.
1.11
Pengujian Subtantif Saldo Persediaan
Pengujian substantif saldo persediaan diterapkan atas
ketiga jenis persediaan, yaitu: persediaan bahan baku, persediaan barang dalam
proses, dan persediaan barang jadi.
1.12
Penetapan Resiko Deteksi
Penentuan jenis prosedur, luas pengujian, dan penentuan
waktu pelaksanan sangat tergantung pada besar kecilnya risiko deteksi.
Penetapan besarnya risiko deteksi ini dipengaruhi risiko bawaan dan risiko
pengendalian berbagai transaksi yang mempengaruhi saldo persediaan, serta
tingkat risiko audit yang dapat diterima.
1.13
Pertimbangan Program audit
Ada pun prosedur pengujian substantif yang dapat
digunakan dalam pertimbangan program audit antara lain sebagai berikut:
1.
Prosedur
Inisial
Dalam
menelaah saldo awal persediaan, auditor hendaknya menentukan bahwa penyesuaian
audit berkaitan dengan catatan periode tahun lalu.
2.
Penerapan
Prosedur Analisis
Rasio
yang dapat dipergunakan dalam prosedur analitis ini, antara lain:
a)
Rate
of gross profit,
b)
Merchandise
infentory turnover,
c)
Number
of sales in inventory,
d)
Rasio
persediaan per aktiva lancar.
3.
Pengujian
Detail Transaksi
Pengujian
ini meliputi prosedur untuk menelusuri dan mengusut data-data persediaan untuk
mendapatkan bukti mengenai pemrosesan transaksi individual yang mempengaruhi
saldo persediaan.
4.
Observasi
Perhitungan Persediaan Klien
Prosedur
pengamatan persediaan klien merupakan prosedur auditing yang diterima
umum.
Prosedur ini sangat menyita banyak waktu dan biaya.
5.
Vouching
Pembelian Tercatat dengan Dokumen Pendukung.
Dokumen
yang digunakan dalam transaksi pembelian meliputi order pembelian, laporan
penerimaan barang, dan faktur dari pemasok.
6.
Mempertimbangkan
Bukti dari Tes Pisah Batas Penjualan dan pembelian
7.
Pengujian
Detil Saldo
Dalam pengujian ini ada beberapa prosedur yang
digunakan antara lain:
a.
Observasi
penghitungan persediaan fisik Klien
b.
Waktu
dan luas pengujian
c.
Perencanan
penghitungan persediaan
d.
Melakukan
pengujian
e.
Mengajukan
pertanyaan pada manajemen mengenai kepemilikan
f.
Menelaah
data mengenai kualitas persediaan
8.
Pengujian
Penetapan Harga Persediaan
Pegujian
ini terdiri atas dua langkah yaitu:
a.
Menentukan
ketepatan dan konsistensi penentuan harga persediaan
b.
Membandingkan
harga pokok per unit yang digunakan klien ke dokumen pendukungnya.
9.
Menelah
Penyajian dan Pengungkapan Persediaan dalam laporan Keuangan
Prosedur
pengujian ini berkaitan erat dengan asersi penyajian dan pengungkapan. Auditor
harus memahami persyaratan penyajian dan pengungkapan persediaan dan harga
pokok produksi serta harga pokok
penjualan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.
MANTAP PAK, SEKALI SEARCH MALAH LANGSUNG SELESAI MAKALAH SAYA. THANKS!!!
ReplyDeleteIZIN ZEDOTTTT
Thanks pak Infonya. Sangat berguna
ReplyDelete