Monday, 4 December 2017

SAMPLING AUDIT




1.1             Definisi dan Tujuan Sampling Audit

Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 350 mendefinisikan sampling audit sebagai :



“penerapan prosedur audit terhadap unsure-unsur suatu saldo akun atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.”



Sampling audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian pengendalian maupun pengujian substantive. Meskipun demikian, auditor biasanya tidak menerapkan sampling audit dalam prosedur pengujian yang berupa pengajuan pertanyaan atau tanya jawab, observasi, dan prosedur analitis. Sampling audit banyak diterapkan auditor dalam prosedur pengujian yang berupa vouching, tracing, dan konfirmasi. Sampling audit, jika diterapkan dengan semestinya akan dapat menghasilkan bukti audit yang cukup, sesuai dengan yang diinginkan standar pekerjaan lapangan yang ketiga.



1.2             Pendekatan Sampling Audit

Standar Profesional Akuntan Publik pada Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan bahwa:

“bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”

Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit yang dapat dipilih auditor untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup. Kedua pendekatan tersebut adalah :



a.        Sampling

Sampling statistik lebih banyak memerlukan biaya daripada sampling non statistik. Namun, tingginya biaya dapat dikompensasi dengan tingginya manfaat yang dapat diperoleh melalui pelaksanaan sampling statistik. Sampling statistik menguntungkan manajemen dalam tiga hal berikut :



a.              Perencanaan sampel yang efisien

b.             Pengukuran kecukupan bukti yang dihimpun

c.              Pengevaluasian hasil sampel

Disamping itu, sampling statistik mendukung auditor untuk mengkuantufikasi dan mengendalikan risiko sampling. Ada dua macam tehnik sampling statistik, yaitu :

a.              Attribute sampling

b.             Variables sampling



c.              Sampling Non Statistik

Sampling non statistik merupakan sampel yang dilakukan berdasarkan criteria subyektif. Auditor dapat menentukan besarnya sampel yang diambil dalam sampling non statistik, dengan melakukan pertimbangan subyektif berdasarkan pengalamanannya. Pelaksaan evaluasi atas sampel juga dilakukan berdasar kriteria subyektif dan pengalaman auditor yang bersangkutan.



1.3             Resiko Sampling dan Nonsampling

Dalam sampling audit, resiko terbagi menjadi 2, yaitu resiko sampling dan resiko non sampling.



1.         Resiko Sampling

Risiko sampling adalah kemungkinan bahwa suatu sampling yang telah diambil dengan benar tidak mewakili populasi. Tipe risiko sampling yang bisa terjadi dalam melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif :

a.     Pengujian Pengendalian

-      Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah, yaitu risiko menetukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur pengendalian yang sesungguhnya.

-      Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu tinggi dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur pengendalian yang sesungguhnya.



b.     Pengujian Substantif

-     Risiko keliru menerima yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo rekening telah salah saji secara material.

-     Risiko keliru menolak yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo rekening tidak berisi salah sajis secara material.

Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu rendah dan risiko keliru menerima, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko beta adalah berkaitan dengan efektivitas audit. Sebaliknya, risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu tinggi dan risiko keliru menolak, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko alpha adalah berkaitan dengan efisiesnsi audit.



2.         Resiko Nonsampling

Risiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling. Risiko nonsampling tidak bisa diukur secara sistematis. Namun demikian, dengan perencanaan dan supervisi yang tepat dan berlandaskan pada standar kualitas mutu, risiko nonsampling dapat ditangani pada tingkat yang minimal atau tidak berarti lagi.



Sumber risiko sampling meliputi :

1.         Kesalahan manusia.

2.         Ketidaktepatan penerapan prosedur audit terhadap tujuan audit.

3.         Kesalahan dalam menafsirkan hasil sampel.

Kesalahan karena mengandalkan pada informasi yang keliru yang diterima dari pihak lain.



1.4             Sampling Audit dalam Pengujian Substantif

Standar Profesional Akuntan Publik 350. Par 16 menyebutkan berbagai faktor yang harus dipertimbangkan auditor dalam perencanaan sampel atas pengujian substantive. Faktor-faktor tersebut meliputi :

a.                  Hubungan antara sampel dengan tujuan audit yang relevan yang harus dicapai.

b.                  Pertimbangan pendahuluan atas tingkat tingkat materialitas.

c.                  Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima auditor.

d.                  Karakteristik populasi.

Disamping faktor tersebut diatas auditor harus cermat dalam mempertimbangkan pula hal-hal berikut :

1.      Pemilihan sampel

2.      Pelaksanaa evaluasi atas hasil sampel


No comments:

Post a Comment

SAMPLING AUDIT

1.1              Definisi dan Tujuan Sampling Audit Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 35...