1. Teori
Struktural Fungsionalisme.
Teori ini dikembangkan dari teori-teori
klasik, seperti Emile Durkheim, Max Weber, Talcott Parson, dan Robert K.
Marton. Salah satu pemikiran Durkheim ialah: fakta sosial atau
realitas sosial akan membentuk prilaku individu. Karena itu, Durkheim sering
disebut strukturalis. Berbagai struktur masyarakat dipahami sebagai
realitas dan fakta sosial, dan hal ini akan membentuk prilaku individu.
Sementara itu Max Weber menganalisa bagaimana pengaruh agama terhadap prilaku
ekonomi, khususnya dalam mendorong tumbuhnya kapitalisme. Selain itu, ritus
keagamaan dipahami sebagai pranata sosial yang dipelihara oleh para pemeluknya
dalam sebuah komunitas sosial. logika yang dikembangkannya ialah: sejauh mana
nilai-nilai agama sebagai sebuah pranata sosial berpengaruh terhadap prilaku
ekonomi.
Sedangkan Talcott Parson merupakan salah
seorang tokoh fungsional yang lebih menekankan pada keserasian, keteraturan dan
keseimbangan dalam sebuah sistem sosial. Menurut Parson, terdapat nilai-nilai
dan norma-norma yang telah disepakati bersama menjadi patokan dan rujukan
tingkah laku bagi setiap anggota komunitas, dan dengan adanya nilai-nilai dan
norma-norma yang disepakati bersama itu, maka dalam masyarakat akan terjadi
keteraturan. Nilai tersebut harus senantiasa dipertahankan agar masyarakat
tetap berada dalam keteraturan dan keserasian. Oleh karena itu setiap anggota
masyarkat harus dididik sedemikian rupa agar memamahami nilai-nilai yang
menjadi patokan bersama.
Sejalan dengan Parson Robert K Marton
mengembangkan teori fungsionalisme lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa, bila
masyarakat merasa puas dengan nilai-nilai yang ada, maka masyarakat akan
menghargainya. Nilai yang menjadi patokan bersama merupakan faktor yang dapat
mendorong integrasi sosial. Ketika masyarakat merasa tidak puas terhadap
nilai-nilai yang ada, sebuah komunitas tidak memiliki faktor yang mengikat satu
sama lain. hal ini akan mendorong tindakan disintegrasi sosial. Karena itu,
Marton menekankan pentingnya nilai dan norma. Bila norma berubah akan terjadi
perubahan sosial.
2. Teori Struktural Konflik
Teori ini dibangun dalam rangka untuk
menentang teori Fungsionalisme Struktural. Karena itu tidak mengherankan
apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan
proposisi yang terdapat adalah Teori Fungsionalisme Struktural. Tokoh utama
Teori Konflik adalah Ralp Danrendorf.
Jika menurut Teori Fungsionalisme
Struktural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam
kondisi keseimbangan, maka menurut Teori Konflik malah sebaliknya. Kalau
menurtu Teori Fungsionalisme Struktural setiap elemen satau setiap institusi
memberikan dukungan terhadap stabilitas, maka Teori Konflik melihat bahwa
setiap elemen atau institusi memberikan sumbangan terhadap disintegerasi
sosial. Kontras lainnya adalah bahwa penganut Teori Fungsionalisme Struktural
melihat anggota masyarakat terikat secara informal oleh norma-norma,
nilai-nilai dan moralitas umum, maka Teori Konflik menilai keteraturan yang
terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau
pemaksaan kekuasaan atas golongan yang berkuasa.
Dahrendorf membedakan golongan yang
terlibat konflik itu atas dua tipe. Kelompok semu (quasi group) dan
kelompok kepentingan (interest group). Kelompok semu merupakan kumpulan
dari para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama yang
terbentuk karena munculnya kelompok-kelompok kepentingan. Sedangkan kelompo
dua, yakni kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas.
Kelompok kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta
anggota yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata
timbulnya konflik dalam masyarakat.
Adapun mengenai fungsi dari adanya
konflik, Berghe mengemukakan ada empat hal:
1) Sebagai
alat untuk solidaritas.
2) Membantu
menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain.
3)
Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi.
4) Fungsi
komunikasi.
3. Teori Interaksional Simbol
Teori interaksi simbolik adalah hubungan
antara simbol dan interaksi. Menurut Mead, orang bertindak berdasarkan makna
simbolik yang muncul dalam sebuah situasi tertentu. Ralph Larossa dan Donald
C.Reitzes mengatakan bahwa interaksi simbolik adalah sebuah kerangka referensi
untuk memahami bagaimana manusia bersama dengan orang lainnya menciptakan dunia
simbolik dan bagaimana dunia ini, sebaliknya membentuk perilaku manusia.
Teori interaksi simbolik adalah hubungan
antara simbol dan interaksi. Menurut G.H. Mead, orang bertindak berdasarkan
makna simbolik yang muncul dalam sebuah situasi tertentu. Sedangkan simbol
adalah representasi dari sebuah fenomena, dimana simbol sebelumnya sudah
disepakati bersama dalam sebuah kelompok dan digunakan untuk mencapai sebuah kesamaan
makna bersama. Simbol dibedakan menjadi dua, yakni: Simbol verbal, penggunaan kata-kata atau bahasa. Simbol nonverbal lebih menekankan pada
bahasa tubuh atau bahasa isyarat.
Tiga
konsep penting menurut George Herbert
Mead (Pendiri)
a.
Pikiran (Mind)
Kemampuan
untuk menggunakan simbol-simbol yang signifikan untuk merespon apa yang kita
lihat kemudian untuk difikirkan dalam benak kita. Dengan menggunakan bahasa dan
berinteraksi dengan orang lain, kita akan mengembangkan apa yang kita pikirkan
dan menghasilkan makna.
b. Diri
(self )
Kemampuan untuk memahami diri sendiri dari
perspektif orang lain. Melalui pandangan orang lain terhadap kita, kita akan
mengetahui lebih jauh tentang pribadi kita sendiri dan membayangkan bagaimana
kita dilihat orang lain.
c. Masyarakat
Sarana hubungan sosial yang diciptakan
oleh manusia. Masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana
anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang
lain dengan menggunakan simbol-simbol. Kita tidak dapat berkomunikasi tanpa
berbagi makna dari simbol-simbol yang kita gunakan.
4. Teori pertukaran
Merupakan teori sosial yang menjabarkan
bagaimana cara seseorang berhubungan dengan orang lain, lalu seseorang itu
dapat menentukan sebuah keseimbangan antara keuntungan dan pengorbanan yang
didapatkan dari hubungan tersebut. (Burhan Bungin) Perilaku sosial terdiri atas
setidaknya dua orang yang melakukan pertukaran berdasarkan untung-rugi yang
disebut comparison levels. Teori ini dapat dipraktikkan dalam konteks
komunikasi interpersonal, dan komunikasi kelompok kecil. Teori ini secara umum
lebih sering digunakan untuk menganalisis perilaku komunikasi interpersonal.
KONSEP
POKOK MENURUT THIBAULT DAN KELLY
1. Ganjaran
Akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dalam suatu hubungan.
2. Biaya
(costs) Akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan, berupa
waktu; usaha; konflik; kecemasan.
3. Laba
(hasil ganjaran yang dikurangi biaya)
4. Tingkat
perbandingan Menunjukkan ukuran baku yang dipakai sebagai kriteria dalam
menilai hubungan individu
5. Nilai
akhir
Dasar
Teori Pertukaran Sosial Teori ini memiliki asumsi bahwa orang akan secara
sukarela memasuki dan tinggal dalam suatu interaksi sosial dengan
mempertimbangkan konsekuensi yang terjadi yaitu untung rugi. Pada dasarnya,
dalam membangun sebuah interaksi sosial yang memungkinkan individu untuk
memaksimalkan keuntungan yang diperoleh. Teori pertukaran sosial merupakan
sebuah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa ada unsur disiplin
hubungan sosial, pengorbanan, mendapatkan dan saling mempengaruhi (reciprocal).
Teori ini menjelaskan bagaimana manusia melihat hubungan dengan orang lain
sesuai dengan asumsi.
No comments:
Post a Comment