Monday, 4 December 2017

RETURN DAN RESIKO AKTIVA TUNGGAL


1.1                   Pengukuran Return Realisasi

Return Total

Return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu yang terdiri dari:

1.    Capital gain (loss): merupakan selisih untung (rugi) dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Jika harga investasi sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga investasi periode lalu (Pt-1) berarti terjadi keuntungan modal (capital gain), dan sebaliknya terjadi kerugian modal (capital loss).

2.    Yield: merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi. Untuk saham biasa yang membayar deviden periodik sebesar Dt rupiah per lembarnya, maka yield adalah sebesar Dt/Pt-1.

Maka rumus dari return saham dapat ditulis sebagai berikut:

Return saham = Capital Gain (Loss) + Yield

Contoh :

Return total dari tahun 1990 sampai dengan 1996 dari saham PT ‘A’ yang membayar dividen tahunan ditunjukkan di Tabel  berikut ini.

Tabel 1.1 Contoh Return Saham PT ‘A’ yang Membayar Dividen.

Periode
Harga Saham (Pt)
Deviden (Dt)
Return (Rt)
1989
1750
100
-
1990
1755
100
0,060
1991
1790
100
0,077
1992
1810
150
0,095
1993
2010
150
0,193
1994
1905
200
0,047
1995
1920
200
0,113
1996
1935
200
0,112



Sebagai ilustrasi cara perhitungan, ruturn total untuk tahun 1990 dan 1991 dihitung sebagai berikut :

R1990 = (1755-1750+100) / 1750

= 0,060 atau 6,00 %

R1991 = (1790 – 1755 + 100) / 1755

= 0,077 atau 7,70 %

Return total dapat dihitung dari penjumlahan capital gain (loss) dan deviden yield seperti tampak di tabel berikut ini.

Tabel 1.2 contoh perhitungan Capital Gain (Loss) dan Devidend Yield dan Return

Periode
(1)
Capital Gain (Loss)
(2)
Dividend Yield
(3)
Return
(4) = (2) + (3)
1990
0,0029
0,0571
0,060
1991
0,0199
0,0570
0,077
1992
0,0112
0,0838
0,095
1993
0,1105
0,0829
0,193
1994
-0,0522
0,0995
0,047
1995
0,0079
0,1050
0,133
1996
0,0078
0,1042
0,112



Sebagai ilustrasi, untuk tahun 1990, capital gain, dividen  yield dan total return dihitung sebesar :

Gain1990            = (1755-1750) / 1750

                            = 0,0029 atau 0,29 %

Yield 1990          = 100 / 1750 = 0,0571

                            = 5,71%

R1990                = 0,0029 + 0,0571 = 0,060

                               atau 6,00%



Return Relatif

Return total dapat bernilai negatif dan positif. Kadangkala pada perhitungan rata-rata geometrik dibutuhkan suatu nilai yang positif, maka digunakan return relatif (relative return) yaitu dengan menambahkan nilai satu terhadap nilai return total sebagai berikut:

Return Relatif = (Return Total +1)   

 Contoh  :

Tabel berikut menunjukkan nilai dari relatif return untuk saham PT ‘A’.

Tabel 1.3 : contoh Perhitungan Relatif Return

Periode (1)
Harga Saham (Pt) (2)
Dividen (Dt) (3)
Return (Rt) (4)
Relatif Return (RRt)     (5) = (4) + 1
1989
1750
100
-
-
1990
1755
100
0,060
1,060
1991
1790
100
0,077
1,077
1992
1810
150
0,095
1,095
1993
2010
150
0,193
1,193
1994
1905
200
0,047
1,047
1995
1920
200
0,113
0,113
1996
1935
200
0,112
0,112



Untuk tahun 1990, relatif return di Tabel 1.3 dapat dihitung sebagai berikut :

RR1990 = R1990 + 1 = 0,060 + 1 = 1,060

Atau dengan menggunakan rumus  :

RR1990 = (P1990 + D1990) / P1989

               = (1755 + 100) / 1750

               = 1,060.



Kumulatif Return

Untuk mengetahui total kemakmuran, indeks kemakmuran kumulatif (cumulative wealth index) yang dapat mengukur akumulasi semua return muali dari kemakmuran awal (KK0), dapat digunakan. Rumus IKK adalah sebagai berikut:

IKK = KK0 (1 + R1) (1 + R2) . . . (1 + Rn)







Keterangan  :

IKK : Indeks kemakmuran kumulatif, mulai dari  periode pertama sampai ke n

KK0 : Kekayaan awal, biasanya digunakan nilai Rp 1

Rt  : Return periode ke–t, mulai awal dari periode (t = 1) sampai ke akhir periode (t = n)



Contoh 1.4 :

Indeks kemakmuran kumulatif untuk saham PT ‘A’ mulai dari tahun 1989 sampai dengan tahun 1996 tampak di tabel berikut ini.

Tabel 1.4 : Indeks Kemakmuran Kumulatif

Periode
Return
Indeks Kemakmuran Kumulatif (IKK)
1989
-
1,000
1990
0,060
1,060
1991
0,077
1,142
1992
0,095
1,250
1993
0,193
1,492
1994
0,047
1,562
1995
0,113
1,738
1996
0,112
1,933



Indeks kemakmuran kumulatif ini menunjukkan kemakmuran akhir yang diperoleh dalam suatu periode tertentu. Misalnya dengan membeli saham ‘A’ di akhir tahun 1989, maka pada akhir akhir tahun 1991, kemakmuran akan menjadi sebesar 114,20% dari kemakmuran semula. Jika saham ini dipertahankan lagi, maka pada akhir tahun berikutnya akan menjadi sebesar 125,00% dari nilai semula di akhir tahun 1990 dengan perhitungan sebagai berikut :

IKK1992           = 1 (1 + 0,060) (1 + 0,077) (1 + 0,095)

                           = 1,250 atau 125,00%



Return Disesuaikan

Return nominal perlu disesuaikan dengan tingkat inflasi yang ada. Return ini biasa disebut return riil (real return) atau return yang disesuaikan dengan inflasi (inflation adjusted return).  Selain itu, diversifikasi internasional semakin dibicarakan, karena diversifikasi ini dapat menurunkan tingkatb resiko yang sudah tidak dapat diturunkan lagi akibat diversifikasi domestik. Jika investasi dilakukan di luar negeri,  return yang diperoleh perlu disesuaikan dengan kurs mata uang yang berlaku sebagai berikut:



R1A = (1+R)/(1+IF) - 1

Keterangan  :

R1A  : return disesuaikan dengan tingkat inflasi

R     : return nominal

IF    : tingkat inflasi

Contoh :

Return sebesar 17% yang diterima setahun dari sebuah surat berharga jika disesuaikan dengan tingkat inflasi sebesar 5% untuk tahun yang sama, akan memberikan return riel sebesar :

R1A            =[(1 + 0,17) / (1 + 0,05)] – 1

= 0,11429 atau 11,429%



Rata – Rata Geometrik

Rata-rata geometrik (geometric mean) digunakan untuk menghitung rata-rata yang memperhatikan tingkat pertumbuhan kumulatif dari waktu ke waktu. Metode rata-rata geomertrik lebih tepat digunakan untuk situasi yang harus melibatkan pertumbuhan, sedangkan metode rata-rata aritmatika lebih tepat digunakan untuk menghitung rata-rata untuk satu periode yang sama dari banyak return tanpa melibatkan pertumbuhan. Jika rata-rata geometrik diketahui, indeks kemakmuran kumulatif untuk periode tertentu dapat dihitung.  Rata-rata geometrik dihitung dengan rumus :

RG = [(1 + R1) (1 + R2) …(1 + Rn)]1/n – 1

Keterengan  :

RG  : rata-rata geometric

Ri    : return untuk periode ke – i

n      : jumlah dari return

Contoh  :

Harga dari suatu saham pada periode ke–0 (periode awal) adalah Rp 500,-. Pada periode selanjutnya (periode ke–1), harga saham ini meningkat menjadi Rp 600,- dan turun di periode ke-2 menjadi Rp 550,-. Return untuk masing-masing periode adalah sebagai berikut :

R1 = (Rp600,-  - Rp500,-) / Rp500.-

     = 0,2 atau 20%

R2 = (Rp550,- - Rp600,-) / Rp600,-

     = -0,083 atau -8,33%



1.2                   Return Eksepektasi

Return ekspektasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, sedangkan return ekspektasi sifatnya belum terjadi.

Return realisasi dibutuhkan dalam menilai Return ekspektasi (expected return), Return saham dalam konteks manajemen investasi merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi yang merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung resiko atas investasi yang dilakukan.

Return ekspektasian (expected return) dapat dihitung berdasarkan beberapa cara sebagai berikut ini,

a.       Berdasarkan nilai ekspektasian masa depan

Dengan adanya ketidakpastian (uncertainty) berarti investor akan memperoleh return dimasa mendatang yang belum diketahui persis nilainya. Untuk ini, yang akan diterima perlu diestimasi nilainya dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Dengan mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat terjadi ini berarti bahwa tidak hanya sebuah hasil masa depan (outcome) yang akan diantisipasi, tetapi perlu diantisipasi beberapa hasil masa depan dengan kemungkinan probabilitas terjadinya. Berurusan dengan uncertainty berarti distribusi probabilitas dari hasil-hasil masa depan perlu diketahui. Distribusi probabilitas merupakan satu set dari kemungkinan outcome dengan masing-masing outcome dihubungkan dengan probabilitas kemungkinan terjadinya. Distribusi probabilitas ini dapat diperoleh dengan cara estimasi secara subjektif atau berdasarkan dari kejadian sejenis dimasa lalu yang pernah terjadi untuk digunakan sebagai estimasi.

Return ekspektasian dapat dihitung dengan metode nilai ekspektasian (expected value method) yaitu mengalikan masing-masing hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya dan sejumlah semua produk perkalian tersebut. Secara matematik, return ekspektasian metode nilai ekspektasian (expected value method).

Contoh  :

Berikut ini merupakan lima buah hasil masa depan dengan probabilitas kemungkinan terjadinya untuk masing-masing kondisi ekonomi yang berbeda:



Kondisi Ekonomi (j)
Hasil Masa Depan (Rij)
Probabilitas (Pj)
Resesi
-0,09
0,10
Cukup Resesi
-0,05
0,15
Normal
0,15
0,25
Baik
0,25
0,20
Sangat Baik
0,27
0,30

         

Selanjutnya return ekspektasian dapat dihitung sebesar:

                                             

E(Ri)      = Ri1 . p1 + Ri2 . p2 + Ri3 . p3 + Ri4 . p4 + Ri5 . p5

= -0,09 (0,10) + -0,05 (0,15) + 0,15 (0,25) + 0,25 (0,20) + 0,27 (0,30)

= 0,125 = 15,20%

b.      Berdasarkan Nilai-Nilai Return Historis

Kenyataannya menghitung hasil masa depan dan probabilitas merupakan hal yang tidak mudah dan bersifat subjektif. Akibat dari perkiraan yang subjektif ini, ketidakakuratan akan terjadi. Untuk mengurangi ketidakakuratan ini, data historis dapat digunakan sebagai dasar ekspektasi.

Tiga metode dapat diterapkan untuk menghitung return ekspektasian dengan menggunakan data historis, yaitu sebagai berikut ini.

1.      Metode rata-rata (mean method)

2.      Metode trend (trend method)

3.      Metode jalan acak (random walk method)



Metode rata-rata mengasumsikan bahwa return ekspektasian dapat dianggap sama dengan rata-rata nilai historisnya. Menggunakan rata-rata return historis tidak mempertimbangkan pertumbuhan dari return-returnnya. Jika pertumbuhan akan diperhitungkan, return ekspektasian dapat dihitung dengan menggunakan teknik trend. Metode random walk beranggapan bahwa distribusi data return bersifat acak sehingga sulit digunakan untuk memprediksi, sehingga diperkirakan return terakhir akan terulang dimasa depan. Dengan demikian metode ini memprediksi bahwa return ekspektasian akan sama dengan return terakhir yang terjadi.

Metode sama yang terbaik tergantung dari distribusi data returnnya. Jika distribusi data return mempunyai poal trend, maka metode trend mungkin akan lebih baik. Sebaliknya jika distribusi data returnnya tidak mempunyai pola acak, maka metode rata-rata atau random walk akan menghasilkan return ekspektasian lebih tepat.











Contoh :

Berikut ini merupakan lima periode terakhir mingguan historissebagai berikut:

Minggu ke
Return (Ri)
-5
0,30%
-4
0,40%
-3
0,05%
-2
0,20%
-1
0,25%













Return-return ekspektasian dapat dihitung sebagai berikut ini.

1.    Dengan metode rata-rata :

E(Ri)        = (0,30 + 0,40 + 0,05 + 0,20 + 0,25)% / 5

                 = 0,24%

2.    Dengan metode trend dapat ditarik garis lurus dengan kesalahan terkecil (lihat gambar, dan biasanya lebih tepat dihitung dengan teknik trend misalnya regresi, rata-rata bergerak dan lain sebagainya). Dengan metode trend akan dihasilkan E(Ri) = 0,35%.

3.     Dengan metode random walk, maka nilai return ekspektasian adalah nilai terakhir yang terjadi, yaitu E(Ri) = 0,25%.



c.       Berdasarkan Model Return Ekspektasian

Model-model untuk menghitung return ekspektasian sangat dibutuhkan. Sayangnya tidak banyak model yang tersedia. Model yang tersedia yang populer dan banyak digunakanadalah single indeks



1.3                   Resiko

Return dan resiko merupakan dua hal yang tidak terpisah, karena investasi merupakan pertimbangan dari kedua factor ini. Keduanya memiliki hubungan yang positif. Resiko sering dihubungkan dengan penyimpangan atau deviasi yang diterima dari ekspektasian. Risiko yang dapat menyebabkan penyimpangan tingkat pengembalian investasi dapat dikelompokan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Systematic risk

Systematic risk disebut juga risiko pasar karena berkaitan dengan perubahaan yang terjadi di pasar secara keseluruhan, risiko ini terjadi karena kejadian diluar kegiatan perusahaan, seperti :

Risiko inflasi

Inflasi akan mengurangi daya beli uang sehingga tingkat pengembalian setelah disesuaikan dengan inflasi dapat menurunkan hasil dari investasi tersebut.

Risiko nilai tukar mata uang (kurs)

Perubahan nilai investasi yang disebabkan oleh nilai tukar mata uang asing menjadi risiko dalam investasi.

Risiko tingkat suku bunga

Jika suku bunga naik maka return investasi yang terkait dengan suku bunga, misalnya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) akan naik ini dapat menarik minat investor saham untuk memindahkan dana ke Sertifikat Bank Indonesia, sehingga banyak yang akan menjual saham dan harga saham akan turun oleh karena itu perubahan suku bunga akan mempengaruhi variabelitas return suatu investasi.

Systematic risk disebut juga undiversible risk karena risiko ini tidak dapat dihilangkan atau diperkecil melalui pembentukan portofolio.

2. Unsystematic risk

Unsystematic risk merupakan risiko spesifik perusahaan karena tergantung dari kondisi mikro perusahaan. Contoh unsystematic risk antara lain : risiko industri, operating laverage risk dan lain-lain. Risiko ini dapat diminimalkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada banyak sekuritas dengan pembentukan portofolio, unsystematic risk disebut juga diversible risk.



1.4                   Hugungan antara Return Ekspektasi dengan Resiko

Return ekspektasi dan resiko memiliki hubungan yang positif. Semakin besar resiko suatu sekuritas, semakin besar return yang diharapkan. Untuk return realisasi, hubungan positif tidak dapat terjadi. Maka jika investor menginginkan return yang lebih tinggi, ia harus menanggung resiko yang tinggi pula. Obligasi pemerintah mempunyai resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan SBI. Obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan mempunyai resiko yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah, sehingga return yang diharapkan juga akan lebih tinggi. Sedangkan saham lebih beresiko daripada obligasi perusahaan , karena harganya saham yang sering berfluktuasi. Pemegang waran dan opsi menanggung resiko yang besar yaitu resiko kehilangan. Namun yang lebih beresiko dari opsi dan waran adalah future karena hasilnya tidak penuh ketidakpastian di masa depan.

No comments:

Post a Comment

SAMPLING AUDIT

1.1              Definisi dan Tujuan Sampling Audit Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 35...