1.1
Penerapan
Teknik Audit
1. Teknik
Audit
Teknik-teknik audit seperti melakukan
pengamatan, mengajukan pertanyaan, menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi
diterapkan pada beragam kondisi
dalam mengumpulkan
bahan bukti audit.
Teknik – teknik tersebut dapat digunakan
sendiri – sendiri maupun gabungan, namun diterapkan dalam kerangka tertentu
tergantung pada subjek yang diaudit
dimana hasil akhirnya adalah rekomendasi dan opini audit.
1.2
Penelahan
Analitis
Penelaahan analitis telah lama digunakan
unttuk menetukan kewajaran datatertentu.
Secara tradisional, penelaahan ini telah dikaitkan
dengan masalah-masalah keuangan. Misalnya:
1.
Perbandingan informasi keuangan periode
sekarang dengan periode lalu.
2. Perbandingan informasi keuangan saat ini dengan yang diharapkan, yaitudengan
anggaran, perkiraan, dan pengalaman industri.
3.
Penelaahan hubungan informasi keuangan dan
non-keuangan
Beberapa metodologi yang digunakan untuk melaksanakan penelaahan iniadalah:
a. Analitis
Tren
Adalah pengujian yang dilakukan dengan membandingkan data sekarangdengan
data sebelumnya.
b. Analisis
Rasio
Rasio-rasio keuangan, seperti profitabilitas, solvensi (kemampuan melunasiutang),
dan efisiensi, bisa digunakan untuk menentukan kewajaran informasi
saatini.
c. Analisis
Regresi.
Teknik ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel
tertentu.Analisis regresi merupakan sumber hubungan yang kaya dibandingkan analisitren
atau rasio karena :
1. Memungkinkan
penggunaan berbagai variable independent.
2. Auditor dapat mengeksplorasi hubungan
antara laporan
keuangandan indicator-indikator non neraca; dan fluktuasi, tren, dan rasio
yang bersifat musiman dapat dimasukkan.
Auditor dapat menggunakan
penelaahan analitis dapat menunjukkan masalah-masalah yang ada dan memberi
jalan bagi dilakukannya audit yang lebih intensif untuk menentukan tingkat
abnormalitasnya, dan yang lebih penting, penyebabnya.
1.3
Bukti
Audit
a.
Sifat Bukti Audit
Bukti
audit (audit evidence) adalah
informasi yang diperoleh auditor internal melalui pengamatan suatu kondisi,
wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus mempunyai dasar nyata
untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti audit terdiri dari :
1. Bukti
fisik
Bukti fisik (physical evidence)
diperoleh dengan orang, property, dan kejadian. Bukti ini dapat berbentuk
pernyataan observasi oleh pengamat atau oleh foto, bagan, peta, grafik (bukti
grafik bersifat persuasive), atau gambar lainnya.
2. Bukti
Pengakuan
Bukti pengakuan (testimonial
evidence) berbentuk surat atau pernyataan sebagai jawaban atas pertanyaan.
Bukti ini tidak bersifat menyimpulkan, jika dimungkinkan masih harus didukung
oleh dokumentasi.
3. Bukti
Dokumen
Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk
bukti audit yang paling biasa. Dokumen bisa eksternal (mencakup surat atau
memorandum yang diterima pleh klien, faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan) maupun internal (dokumen yang
dibuat dalam organisasi klien mencakup catatan akuntansi, salinan korespondensi
ke pihak luar, laporan penerimaan melalui email, dll).
Sumber bukti dokumen mempengaruhi
keandalannya, sebuah dokumen eksternal yang diperoleh langsung dari sumbernya
lebih andal dibandingkan dokumen yang didapatdari klien.
4. Bukti
Analitis
Bukti
analitis (analitycal evidence)
berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber bukti ini adalah perhitungan,
perbandingan dengan standar yang ditetapkan, operasi masa lalu, operasi yang
serupa, dan hukum atau
regulasi, pertimbangan kewajaran, dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil
b. Standar-standar Bukti Audit
Semua
bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :
1. Kecukupan
Bukti dianggap memadai jika
bersifat faktual, memadai dan
meyakinkan sehingga bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati – hati untuk
mengambil kesimpulan yang sama dengan auditor.
2. Kompetensi
Bukti yang kompeten adalah bukti
yang andal, bukti tersebut haruslah yang terbaik yang dapat diperoleh. Dokumen
asli lebih kompeten dibandingkan salinannya, pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dari
pernyataan biasa, bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.
3. Relevansi
Mengacu pada hubungan antara
informasi dengan penggunaannya. Fakta dan opini yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu
masalah harus memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.
1.4
Audit
Berkelanjutan
Sifat
sistem yang ada di enterprise
wide system memungkinkan dilakukannya
audit berkelanjutan. Ikatan akuntan kanada dan AICPA mendefinisikan audit
berkelanjutan (continuous auditing)
sebagai “sebuah metodologi yang memungkinkan auditor independent memberikan
keyakinan tertulis mengenai suatu subjek masalah
menggunakan serangkaian laporan auditor yang dikeluarkan secara simultan dengan
atau setelah suatu periode yang pendek, terjadinya suatu kejadian yang melandasi masalah tersebut”
Studi penelitian menyimpulkan bahwa kondisi berikut memerlukan
diselenggarakannya audit berkelanjutan:
1. Subjek
masalah dengan karakteristik yang sesuai.
2. Keandalan
sistem yang melandasi subjek
tersebut.
3. Bukti
audit yang diberikan oleh prosedur audit dengan tingkat otomatisasi yang tinggi.
4. Sarana
yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil-hasil prosedur audit secara tepat waktu.
5. TIngkat
keahlian auditor yang tinggi dalam teknologi informasi dan subjek masalah.
Berikut masalah yang menjadi
perhatian utama yang berdampak pada
pekerjaan lapangan dan pelaporan auditor internal:
1. Keterlibatan
auditor internal dengan subjek masalah.
2. Pengetahuan
auditor internal mengenai keandalan subjek masalah.
3. Keterlibatan
auditor internal dalam pelaporan dan evaluasi tanggapan manajemen terhadap laporan.
4. Keahlian
internal auditor dengan
teknologi informasi dan masalah-masalah
yang sedang diaudit.
Salah satu komponen kunci dalam
audit berkelanjutan adalah perancangan dan implementasi kontrol otomatis dan pemicu tanda bahaya.
Pemicu tanda bahaya menjadi
penanda bagi auditor internal dan manajemen
akan :
a. Kontrol
berfungsi dan mereka telah mengidentifikasi sebuah kesalahan yang harus
diinvestigasi dan atau diperbaiki.
b. Kontrol
tidak berfungsi berdasarkan informasi yang diidentifikasi.
Dalam
enterprise wide system, auditor internal harus memainkan peran kunci dalam mengurangi risiko hingga ke tingkat yang dapat diterima.
DAFTAR
PUSTAKA
No comments:
Post a Comment