Tuesday, 21 November 2017

Penerapan Teknik Audit

1.1              Penerapan Teknik Audit
1.    Teknik Audit
Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan, menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada beragam kondisi dalam mengumpulkan bahan bukti audit.
Teknik – teknik tersebut dapat digunakan sendiri – sendiri maupun gabungan, namun diterapkan dalam kerangka tertentu tergantung pada subjek yang diaudit dimana hasil akhirnya adalah rekomendasi dan opini audit.


1.2              Penelahan Analitis
            Penelaahan analitis telah lama digunakan unttuk menetukan kewajaran datatertentu. Secara tradisional, penelaahan ini telah dikaitkan dengan masalah-masalah keuangan. Misalnya:
1.        Perbandingan informasi keuangan periode sekarang dengan periode lalu.
2.       Perbandingan informasi keuangan saat ini dengan yang diharapkan, yaitudengan anggaran, perkiraan, dan pengalaman industri.
3.        Penelaahan hubungan informasi keuangan dan non-keuangan
Beberapa metodologi yang digunakan untuk melaksanakan penelaahan iniadalah:
a.       Analitis Tren
Adalah pengujian yang dilakukan dengan membandingkan data sekarangdengan data sebelumnya.
b.      Analisis Rasio
Rasio-rasio keuangan, seperti profitabilitas, solvensi (kemampuan melunasiutang), dan efisiensi, bisa digunakan untuk menentukan kewajaran informasi saatini.
c.       Analisis Regresi.
Teknik ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel tertentu.Analisis regresi merupakan sumber hubungan yang kaya dibandingkan analisitren atau rasio karena :
1.      Memungkinkan penggunaan berbagai variable independent.
2.      Auditor dapat mengeksplorasi hubungan antara laporan
keuangandan indicator-indikator non neraca; dan fluktuasi, tren, dan rasio yang bersifat musiman dapat dimasukkan. 
Auditor dapat menggunakan penelaahan analitis dapat menunjukkan masalah-masalah yang ada dan memberi jalan bagi dilakukannya audit yang lebih intensif untuk menentukan tingkat abnormalitasnya, dan yang lebih penting, penyebabnya.

1.3              Bukti Audit
a.       Sifat Bukti Audit
Bukti audit (audit evidence) adalah informasi yang diperoleh auditor internal melalui pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus mempunyai dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti audit terdiri dari :
1.    Bukti fisik
Bukti fisik (physical evidence) diperoleh dengan orang, property, dan kejadian. Bukti ini dapat berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat atau oleh foto, bagan, peta, grafik (bukti grafik bersifat persuasive), atau gambar lainnya.
2.    Bukti Pengakuan
Bukti pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan sebagai jawaban atas pertanyaan. Bukti ini tidak bersifat menyimpulkan, jika dimungkinkan masih harus didukung oleh dokumentasi.
3.    Bukti Dokumen
Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit yang paling biasa. Dokumen bisa eksternal (mencakup surat atau memorandum yang diterima pleh klien, faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan) maupun internal (dokumen yang dibuat dalam organisasi klien mencakup catatan akuntansi, salinan korespondensi ke pihak luar, laporan penerimaan melalui email, dll).
Sumber bukti dokumen mempengaruhi keandalannya, sebuah dokumen eksternal yang diperoleh langsung dari sumbernya lebih andal dibandingkan dokumen yang didapatdari klien.

4.    Bukti Analitis
Bukti analitis (analitycal evidence) berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber bukti ini adalah perhitungan, perbandingan dengan standar yang ditetapkan, operasi masa lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi, pertimbangan kewajaran, dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil

b.      Standar-standar Bukti Audit
Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :
1.      Kecukupan
Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai dan meyakinkan sehingga bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati – hati untuk mengambil kesimpulan yang sama dengan auditor.
2.      Kompetensi
Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal, bukti tersebut haruslah yang terbaik yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan salinannya, pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dari pernyataan biasa, bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.
3.      Relevansi
Mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunaannya. Fakta dan opini yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah harus memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

1.4              Audit Berkelanjutan
            Sifat sistem yang ada di enterprise wide system memungkinkan dilakukannya audit berkelanjutan. Ikatan akuntan kanada dan AICPA mendefinisikan audit berkelanjutan (continuous auditing) sebagai “sebuah metodologi yang memungkinkan auditor independent memberikan keyakinan tertulis mengenai suatu subjek masalah menggunakan serangkaian laporan auditor yang dikeluarkan secara simultan dengan atau setelah suatu periode yang pendek, terjadinya suatu kejadian yang melandasi masalah tersebut”
Studi penelitian menyimpulkan bahwa kondisi berikut memerlukan diselenggarakannya audit berkelanjutan:
1.      Subjek masalah dengan karakteristik yang sesuai.
2.      Keandalan sistem yang melandasi subjek tersebut.
3.      Bukti audit yang diberikan oleh prosedur audit dengan tingkat otomatisasi yang tinggi.
4.      Sarana yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil-hasil prosedur audit secara tepat waktu.
5.      TIngkat keahlian auditor yang tinggi dalam teknologi informasi dan subjek masalah.
Berikut masalah yang menjadi perhatian utama yang berdampak pada pekerjaan lapangan dan pelaporan auditor internal:
1.    Keterlibatan auditor internal dengan subjek masalah.
2.    Pengetahuan auditor internal mengenai keandalan subjek masalah.
3.    Keterlibatan auditor internal dalam pelaporan dan evaluasi tanggapan manajemen terhadap laporan.
4.    Keahlian internal auditor dengan teknologi informasi dan masalah-masalah yang sedang diaudit.
Salah satu komponen kunci dalam audit berkelanjutan adalah perancangan dan implementasi kontrol otomatis dan pemicu tanda bahaya.
Pemicu tanda bahaya menjadi penanda bagi auditor internal dan manajemen akan :
a.    Kontrol berfungsi dan mereka telah mengidentifikasi sebuah kesalahan yang harus diinvestigasi dan atau diperbaiki.
b.    Kontrol tidak berfungsi berdasarkan informasi yang diidentifikasi.
         Dalam enterprise wide system, auditor internal harus memainkan peran kunci dalam mengurangi risiko hingga ke tingkat yang dapat diterima.



 DAFTAR PUSTAKA




No comments:

Post a Comment

SAMPLING AUDIT

1.1              Definisi dan Tujuan Sampling Audit Ikatan Akuntansi Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 35...