PEMBAHASAN
1.1
Deskripsi Prosedur Siklus Produksi
A. Pengertian Siklus Produksi
Siklus Produksi adalah
serangkaian aktifitas bisnis dan kegiatan pengolahan data yang berkaitan dengan
proses pembuatan produk dan terjadi secara terus-menerus. Keberadaan
system informasi akuntansi sangat penting dalam siklus produksi, dengan system
informasi akuntansi membantu menghasilkan informasi biaya yang tepat dan waktu
kerja yang jelas untuk dijadikan masukan bagi pembuat keputusan dalam
perancanaan produk atau jasa yang dihasilkan, berapa harga produk tersebut, dan
bagaimana perencanaan penyerapan dan alokasi sumber daya yang diperlukan, dan
yang sangat penting adalah bagaimana merencanakan dan mengendalikan biaya
produksiserta evaluasi kinerja terhadap produktifitas yang dihasikan.
B. Peran SIA dalam Siklus Produksi
1.
Bauran Produk
Produk apa yang ingin
diproduksi.
2.
Penetapan Harga roduk
Berapa HPP sampai
produk selesai dibuat.
3.
Alokasi dan Perencanan Sumber Daya
Apakah jita akan membeli produk lalu
dijual / membuat / memproduksi sendiri
lalu dijual.
4.
Manajemen Biaya
Merencanakan / mengalokasikan biaya -
biaya yang timbul.
1.2
Prosedur
Produksi
1. Desain Produk
Langkah pertama dalam siklus produksi adalah desain produk, tujuan aktivitas ini adalah
untuk merancang sebuah produk yang memenuhi permintaan dalam hal kualitas,
ketahanan, dan fungsi, dan secara simultan meminimalkan biaya produksi. Aktivitas
desain produk menciptakan dua dokumen utama, yaitu pertama, daftar bahan
baku yang menyebutkan nomor bahan baku, deskripsi, serta jumlah
masing-masing komponen bahan baku yang digunakan dalam satu unit produk jadi.
Kedua, daftar operasi yang menyebutkan kebutuhan tenaga kerja dan
mesin yang diperlukan untuk memproduksi produk tersebut.
Peran akuntan harus terlibat dalam
desain produk karena 65% hingga 80% biaya produk ditentukan pada tahap proses
produksi ini. Paran akuntan dapat memberikan informasi yang menunjukkan
bagaimana berbagai desain dapat mempengaruhi biaya produksi suatu lini
produk-produk yang berkaitan dengan meningkatkan jumlah komponen bersama yang
digunakan dalam masing-masing produk. Dengan memberikan data mengenai
biaya perbaikan dan jaminan yang terkait dengan produk yang ada dapat berguna
untuk mendesain produk yang lebih baik.
2. Perencanaan dan Penjadwalan
Langkah kedua dalam siklus produksi adalah perencanaan dan penjadwalan, tujuan dari langkah ini adalah
mengembangkan rencana produksi yang cukup efisien untuk memenuhi pesanan yang
ada dan mengantisipasi permintaan jangka pendek tanpa menimbulkan kelebihan
persediaan barang jadi. Terdapat dua metode perencanaan produksi yang umum
digunakan adalah Perencanaan sumber daya produksi (manufacturing resource
planning = MRP-II) dan Sistem produksi Just-in-time
(JIT). MRP-II adalah kelanjutan dari perencanaan sumber daya bahan
baku yang mencari keseimbangan antara kapasitas produksi yang ada dan kebutuhan
bahan baku untuk memenuhi perkiraan permintaan penjualan. Sistem MRP-II
sering disebut sebagai push manufacturing, karena barang diproduksi sebagai
ekspetasi atas permintaan pelanggan. Sedangkan Just-in-time
(JIT)memperluas prinsip sistem pengendalian persediaan untuk seluruh proses
produksi. Tujuan produksi JIT adalah meminimalkan atau meniadakan
persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. JIT sering
kali disebut sebagai pull manufacturing, karena barang diproduksi sebagai
tanggapan atas permintaan pelanggan. Jadi hanya berproduksi sebagai tanggapan
atas pesanan pelanggan.
Jadwal
Induk Produksi (master production schedule - MPS) menspesifikasikan seberapa banyak
produk akan diproduksi selama periode perencanaan dan kapan produksi tersebut
harus dilakukan. Permintaan bahan baku mensahkan pengeluaran jumlah bahan
baku yang dibutuhkan dari gudang ke lokasi pabrik, tempat bahan tersebut
dibutuhkan. Dokumen ini berisi nomor perintah produksi, tanggal pembuatan,
dan berdasarkan pada daftar bahan baku, nomor baarang serta jumlah semua bahan
baku yang dibutuhkan. Perpindahan selanjutnya dari bahan baku di sepanjang
pabrik akan didokumentasikan dalam dalam kartu perpindahan, yang
mengidentifikasikan bagian – bagian yang di pindahkan, lokasi
perpindahannya serta waktu perpindahan.
Peran akuntan dalam
aktivitas ini memastikan bahwa SIA mengumpulkan dan melaporkan biaya
secara konsisten dengan teknik perencanaan produksi perusahaan. Para
akuntan juga membantu perusahaan memilih antara MRP-II atau JIT untuk
melihat manakah yang lebih tepat untuk perencanaan dan penjadwalan produksi
perusahaan.
3. Operasi Produksi
Langkah ketiga dalam siklus produksi adalah produksi
aktual dari produk. Cara aktivitas ini dicapai sangat
berbeda di berbagai perusahaan. Salah satunya dengan menggunakan
computer-integrated manufacturing (CIM). Computer-Integrated Manufacturing
(CIM) adalah penggunaan berbagai bentuk TI dalam proses produksi, seperti robot
dan mesin yang dikendalikan oleh kompute, untuk mengurangi biaya produksi.
Setiap perusahaan membutuhkan data mengenai 4 segi
berikut ini dari operasi produksinya :
1. Bahan baku yang digunakan
2. Jam tenaga kerja yang digunakan
3. Operasi mesin yang dilakukan
4. Serta biaya overhead produksi lainnya yang
terjadi
4. Akuntansi Biaya
Langkah terakhir dalam siklus produksi adalah akuntansi biaya.
Terdapat tiga tujuan
dasar dari sistem akuntansi biaya yaitu :
1.
Memberikan informasi
untuk perencanaan, pengendalian, dan penilaian kinerja dari operasi produksi.
SIA didesain untuk mengumpulkan data real-time mengenai kinerja aktivitas
produksi agar pihak manajemen dapat membuat keputusan tepat waktu.
2.
Memberikan data
biaya yang akurat mengenai produk untuk digunakan dalam menetapkan harga serta
keputusan bauran produk. SIA mengumpulkan biaya berdasarkan berbagai
kategori dan kemudian membebankan biaya tersebut ke produk & unit
organisasi tertentu .
3.
Mengumpulkan dan
memproses informasi yang digunakan untuk menghitung persediaan serta
nilai harga pokok penjualan yang muncul di laporan keuangan perusahaan.
1.3
Pengendalian
Terhadap Siklus Persediaan
Pengendalian persedian
merupakan fungsi manajerial yang sangat penting karena persediaan fisik banyak
melibatkan investasi rupiah terbesar. Menurut Handoko (2000), bila perusahaan
menamankan terlalu banyak dananya dalam persediaan, menyebabkan biaya
penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai “Opportunity
Cost” (dana
dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih menguntungkan”. Sebaliknya, bila
perusahaan tidak mempunyai persediaan yang cukup dapat mengakibatkan
biaya-biaya karena kekurangan bahan.
Istilah persediaan (Inventory) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan
segala sesuatu atau sumberdaya-sumberdaya organisasi yang disimpan dalam
antisipasi pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumberdaya internal ataupun
eksternal ini meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam proses, barang
jadi atau produk akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap dan komponen-komponen
lain yang menjadi bagian keluaran produk perusahaan.
Fungsi-fungsi persediaan antara lain
(Handoko, 2002) :
1. Fungsi Decoupling
Fungsi persediaan ini operasi-operasi
perusahaan secara internal dan ekstrenal sehingga perusahaan dapat memenuhi
permintaan langanan tanpa tergantung pada supplier. Persediaan
barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari
langganan. Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang
tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut Fluctuation Stock.
2.
Fungsi Economis Lot Sizing
Persediaan berfungsi untuk mengurangi
biaya-biaya per unit saat produksi dan membeli sumberdaya-sumberdaya.
Persediaan ini perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan
pembelian, biaya pengangkutan lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan
melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan
biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang,
investasi, resiko kerusakan).
3.
Fungsi Antisipasi
Persediaan berfungsi sebagai pengaman
bagi perusahaan yang sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman
dan permintaan akan barang-barang. Persediaan ini penting agar kelancaran
proses produksi tidak terganggu.
Persediaan ada berbagai jenis. Setiap
jenisnya mempunyai karakteristik khusus dan cara pengelolaannya juga berbeda.
Menurut jenisnya, persediaan dapat dibedakan atas (Handoko, 2002):
a.
Persediaan bahan mentah (raw materialis), yaitu persediaan barang-barang
berwujud mentah. Persediaan ini dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau
dibeli dari paraSupplier atau
dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi
selanjutnya.
b.
Persediaan komponen-komponen
rakitan (purchased paris), yaitu persediaan barang-barang yang
terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana
secara langsung dapat dirakit menjadi produk.
c.
Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang
merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi
atau yang telah diolah menjadi suatu
bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
d.
Persediaan bahan pembantu atau
penolong (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang
diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen
barang jadi.
e.
Persedian barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang
telah selesai diproses atau diolah dalam bentuk produk dan siap untuk dijual
atau dikirim kepada pelanggan.
4.
Peranan Persediaan
Pada dasarnya persediaan mempermudah
atau memperlancar jalannya operasi perusahaan yang harus dilakukan secara
berturut-turut untuk memproduksi barang-barang serta menyampaikan kepada
pelanggan. Persediaan bagi perusahaan, antara lain berguna untuk:
1. Menghilangkan resiko keterlambatan
datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
2. Menumpuk bahan-bahan yang
dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada
dalam pasaran.
3. Mempertahankan stabilitas atau
kelancaran operasi perusahaan.
4. Mencapai penggunaan mesin yang
optimal.
5. Memberikan pelayanan kepada
pelanggan dengan sebaik-baiknya.
6. Membuat produksi tidak perlu
sesuai dengan pengunaan atau penjualannya.
Persediaan sangat penting artinya bagi
suatu perusahaan karena berfungsi menggabungkan antara operasi yang berurutan
dalam pembuatan suatu barang dan menyampaikannya kepada konsumen. Adanya
persediaan, dapat memungkinan bagi perusahaan untuk melaksanakan operasi
produksi, karena faktor waktu antara operasi itu dapat dihilangkan sama sekali
atau dimininumkan (Assauri, 1999).
No comments:
Post a Comment